Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Cerita Lucu yang Nyaris Bikin SDN 04 Purwodadi Grobogan Gagal jadi Juara Nasional

Kepala Sekolah SDN 04 Purwodadi Widarti dan guru pendampingnya Sawijo memamerkan penghargaan juara I Lomba Budaya Mutu tingkat nasional untuk kategori komponen pembelajaran yang dilangsungkan di Yogyakarta. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan  – Di balik keberhasilan juara Lomba Budaya Mutu tingkat nasional untuk kategori komponen pembelajaran ternyata menyisakan kisah cukup lucu. Yakni, SDN 04 Purwodadi sempat hampir ketinggalan mengikuti penilaian dalam grand final yang dilangsungkan di salah satu hotel ternama di Yogyakarta.

Dalam penilaian ini, SDN 4 diwakili Kepala Sekolah Widarti dan guru pendamping Sawijo. Grand final Lomba Budaya Mutu dilangsungkan 7-9 November.

Sementara tahap penilaian persentasi dan wawancara dilangsungkan mulai Rabu malam. Saat penilaian ini, Widarti dan Sawijo sempat menyaksikan bersama perwakilan peserta lainnya hingga sekitar pukul 21.30 WIB.

Setelah itu, keduanya memutuskan untuk kembali ke kamar hotel masing-masing yang lokasinya berlainan buat istirahat guna menjaga kondisi. Widarti dapat kamar hotel di lantai 10 sedangkan Sawijo di lantai 15. Sesuai jadwal sebelumnya, penilaian untuk SDN 04 yang dapat nomor urut 29 dilangsungkan Kamis pagi.

Saat hendak tidur, mendadak ponsel Widarti yang ditaruh di meja kecil dekat kasur terus bergetar, tanda ada pesan masuk. Semula hal itu sempat diabaikan karena dikira pesan dari temannya di Grobogan yang ada dalam grup Whatsapp (WA).

“Tapi perasaan saya mendadak tidak enak dan akhirnya saya ambil HP-nya. Setelah saya baca ternyata ada pemberitahuan dari panitia lomba yang dimasukkan dalam grup WA peserta grand final lomba. Pihak panitia memang membuatkan grup WA khusus biar mudah menghubungi peserta,” katanya.

Pesan yang masuk langsung membuatnya gugup. Soalnya, pesan itu berisi pemberitahuan jika peserta yang seharusnya menjalani penilaian besok pagi dimajukan malam itu juga.

“Setelah baca pesan ini, saya langsung bersiap dan cepat-cepat turun ke lokasi penilaian. Saking gugupnya karena ada perubahan mendadak, saya sampai pakai sepatu didalam lift,” ujar Widarti sambil tertawa.

Setelah sampai di ruang penilaian, peserta nomor urut 27 baru mulai dinilai tim juri. Saat itu, dia sempat diminta untuk bersiap setelah nomor urut 27 karena peserta nomor 28 belum datang.

“Mendapat pemberitahuan ini, saya tambah kaget. Soalnya, pak Sawijo selaku pendamping belum datang ke lokasi,” jelasnya.

Tidak lama kemudian, Widarti akhirnya bisa bersikap tenang. Hal ini terjadi setelah peserta nomor 28 dan rekannya Sawijo datang bersamaan, sebelum peserta nomor 27 selesai penilaian. Mengingat peserta nomor 28 sudah datang, akhirnya jadwal penilaian dilangsungkan sesuai urutan.

Menurut Widarti, penilaian malam itu hanya berlangsung 13 menit tiap peserta. Yakni, 7 menit untuk persentasi dan 6 menit untuk sesi wawancara.

“Kami selesai penilaian sekitar jam 22.15 WIB. Dalam penilaian akhirnya berjalan lancar meski sebelumnya sempat gugup karena ada perubahan jadwal mendadak.

Alhamdulillah, besok malamnya kami dapat kabar gembira di tempat yang sama karena dinobatkan jadi juara I untuk kategori komponen pembelajaran,” cetusnya. 

Editor : Akrom Hazami

Ruangan komen telah ditutup.