Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Staf Ahli Menkominfo : Bijak Bermedsos Itu Bukan yang Paling Tahu

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Donny Budi Utoyo saat menyampaikan materi dalam Forum Dialog dan Literasi Media “Bijak Bermedia Sosial” di Hotel Ciputra Semarang. (Istimewa)

MuriaNewsCom, Semarang – Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika, Donny Budi Utoyo menyebut, bijak dalam bermedia sosial buka bukan merasa paling tahu. Melainkan harus cerdas dan pandai dalam memanfaatkan media digital untuk kepentingan positif.

Ini dikatakan Donny saat menjadi narasumber dalam Forum Dialog dan Literasi Media “Bijak Bermedia Sosial” yang digelar Kemenkominfo dan Majelis Ulama Indonesia (MUI), di Hotel Ciputra Semarang, Kamis (2/11/2017).

Dalam dialog yang mengambil tema “Literasi Medsos Berbasis Islam Wasathiyah” itu  Donny menyebut, untuk meminimalisasi dampak buruk, literasi digital sebaiknya dimulai dari hulu.

Cara itu jika dilakukan secara komprehensif dibarengi dengan pendampingan oleh komunitas serta penegakan hukum di hilir, diyakini akan dapat membantu mencerdaskan masyarakat dalam menggunakan media digital.

“Ada banyak dampak negatif penggunaan medsos secara tidak baik. Antara lain, mengganggu privasi orang lain, pornografi anak, radikalisme, cyberbully, ujaran kebencian, main hakim sendiri (persekusi), dan berita bohong (hoaks),” katanya.

Acara yang dimoderatori Sekretaris Infokom MUI Pusat Usman Yatim itu juga menghadirkan Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat Dr KH Nurul Irfan dan Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji sebagai pemateri. Sementara peserta berasal dari perwakilan organisasi kepemudaan dan remaja masjid.

Donny menjelaskan, saat ini Indonesia berpenduduk sejumlah 262 juta jiwa. Dari jumlah itu, 132,7 juta atau 55 persen di antaranya merupakan pengguna internet, dan 106 juta atau 40 persennya menggunakan media sosial.

Yang aktif di media sosial menggunakan handphone sejumlah 92 juta atau 35 persen. Uniknya, ada 371,4 juta nomor handphone yang aktif atau 142 persen dari  jumlah penduduk Indonesia. “Nomor yang digunakan melebihi jumlah penduduk Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, bijak bermedos diperlukan. Karena jika tidak maka masyarakat akan mudah diadu domba.

“Bayangkan, pernyataan pimpinan ormas, ulama yang didapat langsung saja di-share lewat medsos. Padahal isinya ada yang dipelintir, tentu saja hal ini bisa membuat resah, karena ada ujaran kebencian, adu domba,” ucap Usman Yatim.

Sementara itu, Ketua MUI Jateng Ahmad Darodji menyebut, MUI juga punya tugas membantu umat dalam menghadapi berbagai dampak negatif penyebarluasan informasi yang merusak. Termasuk informasi yang beredar melalui media sosial.

“Tugas MUI adalah mengajak umat agar punya daya tangkal kuat menghadapi berita bohong, ujaran kebencian yang tersebar lewat media sosial,” ucapnya.

Editor : Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.