Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Sering Bikin Celaka, Perlintasan KA Jalur Pantura Bakal Ditutup

Salah satu perlintasan tanpa palang di Desa Katong, Kecamatan Toroh, Grobogan yang jadi tempat terjadinya kecelakaan pada Sabtu (20/5/2017) lalu. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Perlintasan kereta api (KA) sebidang di jalur pantura kerap menjadi tempat celaka. Meski ada petugas dan palang pintu, pengguna jalan sering menerobos dan terjadi kecelakaan. Terlebih di perlintasan liar tanpa palang pintu.

Beberapa waktu lalu, satu keluarga tewas setelah mobil Toyota Avanza yang mereka tumpangi tertabrak kereta di perlintasan sebidang tanpa palang pintu di daerah Weleri, Kendal. Selein kasus ini, banyak kasus lain yang terjadi di perlintasan sebidang.

Sejumlah kalangan mendesak PT KAI dan pemerintah melakukan terobosan untuk meminimalisasi kecelakaan di perlintasan KA.

Kini PT Kereta Api Indonesia (KAI) akan menutup ratusan perlintasan sebidang di jalur pantura. Sebanyak 114 titik perlintasan di wilayah PT KAI Daop IV Semarang, mulai dari Tegal hingga Cepu bakal ditutup.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Edy Koeswoyo mengatakan, dari Stasiun Tegal hingga Stasiun Weleri Kendal ada 30 titik perlintasan yang bakal ditutup.  Kemudian, 35 titik sebidang di Stasiun Kalibodri, Brumbung, Kedungjati, Padas.

“Di wilayah Tegowanu, Panunggalan, Gambringan, Gundih, Telawah ada 31 titik perlintasan yang ditutup. Kemudian di wilayah Stasiun Kradenan sampai Cepu ada 18 titik,” katanya pada wartawan, Kamis (2/11/2017).

Ia menyebut, PT KAI telah memasang patok sebagai tanda bahwa penutupan perlintasan-perlintasan tersebut sebentar lagi dilakukan. Pihaknya hanya melakukan pematokan, sementara untuk wenangan melakukan penutupan berada di pemerintah daerah (pemda).“Kami usahakan secepatnya selesai,” ujarnya.

Ia menyebut di wilayahnya terdapat 512 titik perlintasan sebidang. Namun, yang dipakai secara resmi hanya 109 titik. Sedangkan sisanya 378 titik beroperasi ilegal.

Untuk perlintasan kereta api tidak sebidang, pihaknya mengopersikan di 15 titik. Perlintasan yang di underpass 17 titik dan di flyover 8 titik.

Baca : Guyonan Berujung Maut, Pria di Semarang Tewas Dihantam Linggis Temannya

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso juga mempersoalkan tentang perlintasan sebidang ini.

Hadi menuturkan, banyak perlintasan sebidang di Jateng yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi. Data dari Dinas Perhubungan Jateng, ada 1.303 perlintasan sebidang. Selain itu, di Jateng juga ada 1.091 perlintasan KA yang tidak dijaga dam 991 perlintasan tak berpalang pintu.

Ia menuding, pemerintah terkesan melempar tanggung jawab atas banyaknya kasus kecelakaan di perlintasan sebidang ini.

Sebab, dengan UU Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian dianggap oleh pemda kewajiban pengamanan kereta pun menjadi tanggung jawab PT KAI dengan segala keistimewaan hak bagi kereta.

“Namun PT KAI juga menganggap pengamanan perlintasan sebidang menjadi kewajiban pemda. Ini karena UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemda, menyesuaikan halan yang melewati perlintasan sebidang. Jika jalan nasional kewajiban pemerintah pusat, jika Jalan provinsi kewajiban pemprov. Saling lempar ini menyebabkan semakin menjamurnya perlintasan sebidang ilegal,” terangnya.

Baca : Pak Haji Penjual Miras Oplosan Asal Mlonggo Jepara Dikenai Pasal Berlapis

Yang menjadi masalah, kata Hadi, kecelakaan sebagian terjadi di perlintasan tanpa palang, artinya di perlintasan ilegal sehingga rakyat yang Jadi korban.

“Solusi tegas, pemda harus dikasih tenggat waktu sampai kapan perlintasan legal itu boleh beroperasi. Yang ilegal harus ditutup atau dibatasi yang sudah permanen jalannya, jadi kewajiban pemkab/kota yang belum permanen kewajiban PT KAI,”pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...