Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Jadi Korban Pemberitaan, Ini yang Harus Kamu Lakukan

Kegiatan diskusi literasi media dikalangan pelajar, mahasiswa dan ormas di United Cafe, Selasa (26/9/2017). (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Bagi Anda yang pernah merasa dirugikan atau bahkan jadi ‘korban’ pemberitaan media, baik media online, cetak, hingga televisi jangan takut untuk mengadu ataupun klarifikasi. Selain menjadi hak, langkah itu adalah cara yang benar untuk menyelesaikan persoalan.

Ketua PWI Jateng Amir Machmud NS mengatakan, masyarakat yang menjadi korban pemberitaan media online ataupun cetak, dapat melaporkan ke kantor berita yang menyiarkan. Tujuannya untuk mendapatkan hak jawab atas pemberitaan sebelumnya.

”Kemudian, masyarakat atau korban, juga dapat melaporkan kejadian kepada dewan pers. Nantinya, dewan pers yang akan menindaklanjuti,” katanya saat mengisi diskusi literasi media di kalangan pelajar, mahasiswa, dan ormas di United Cafe, Selasa (26/9/2017)

Selain itu, lanjut dia, jika media tersebut adalah media televisi, maka masyarakat dapat melaporkan hal tersebut kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID).

”Semua ada yang menaungi. Jadi kadang orang tidak tahu harus mengadu kemana saat menjadi korban pemberitaan,” ungkapnya.

Amir menjelaskan, makna dari korban pemberitaan tak selamanya hanya berlaku bagi orang ketiga yang dibicarakan. Korban di sini bisa jadi apa yang dikatakan tak sesuai dengan apa yang ditulis.

Dari situ, masyarakat harus mulai cerdas dan melek media. Salah satunya dengan memointa hak jawab atas apa yang sudah ditayangkan.

”Hak jawab ini biasanya berupa berita. Jadi dengan adanya hak jawab ini diharapkan bisa mengklarifikasi apa yang disangkakan semula.

Sementara itu, Komisioner KPID Iwan Hendra Kelana menambahkan, masyarakat harus pandai memilah berita. Jangan sampai gampang termakan isu atau kabar berita yang tak benar atau hoax. Jika dirasa ragu, maka pemberitaan jangan disebar luaskan.

Tak hanya termakan, masyarakat juga diminta lebih obyektif dalam membagikan gambar ataupun video yang tak patut disebarluaskan. Selain berkaitan etika, hal itu akan semakin menambah luka orang-orang yang ada di dalam gambar tersebut.

”Misalnya pada kasus kecelakaan hebat. Di situ korban luka serius hingga anggota tubuh sudah tak lengkap lagi. Nah yang seperti itu jangan disebarkan. Kita bayangkan saja jika itu adalah keluarga kita,” imbuhnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...