Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Panas dan Hujan Bergantian, Awas Bahaya Petir dan Badai

Sejumlah pengguna jalan menerobosnya derasnya guyuran hujan di salah satu sudut di Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu. Jateng saat ini memasuki pancaroba. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Semarang – Wilayah Jawa Tengah sudah memasuki masa pancaroba atau transisi dari musim kemarau ke musim hujan. Hal ini ditandai dengan sudah mulai turunnya hujan di beberapa wilayah di Jateng.

Meski demikian, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah memperkirakan, awal musim hujan akan dimulai pada bulan Oktober 2017 mendatang.

“Rata-rata diprediksi musim hujan mulai dasarian (10 hari) kedua bulan Oktober. Sekarang masuk peralihan atau transisi dari kemarau ke musim hujan,” kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo di Cilacap dikutip dari Antarajateng.com, Selasa (26/9/2017).

Selama masa pancaroba ini menurutnya, hujan tidak turun secara rutin. Melainkan secara bergantian antara panas menyengat dan hujan, seiring bergesernya matahari dari utara ekuator ke selatan.

Posisi matahari pada tanggal 23 September 2017 tepat berada di ekuator atau yang dikenal dengan “equinox”. Jika posisi matahari makin ke selatan, kondisi cuaca di wilayah selatan ekuator akan makin aktif, sehingga bakal bermunculan tekanan rendah yang memicu datangnya musim hujan.

“Saat ini belum banyak tekanan rendah yang aktif di wilayah selatan ekuator,” ujarnya.

Kendati demikian, dia mengakui jika saat ini di Australia telah ada bibit tekanan rendah sebesar 1.006 milibar sedangkan di utara ekuator, yakni di sekitar Filipina sebesar 1.008 milibar.

Jika sebelumnya di wilayah utara ekuator banyak terjadi badai, kata dia, saat sekarang badainya mulai luruh. Sedangkan di wilayah selatan ekuator, sudah mulai muncul tekanan rendah dan hujan mulai turun di beberapa daerah Pulau Jawa secara merata.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap petir dan angin puting beliung yang berpotensi terjadi pada masa transisi ini.

“Hujan pada masa transisi masih berfluktuasi, kadang hujan, diselingi panas, ada hujan lagi. Nah, ini yang ke depan kemungkinan petirnya akan muncul,” jelasnya.

Selain pada masa transisi, kata dia, potensi terjadinya petir dan puting beliung pada awal musim hujan juga cukup tinggi. Gelombang tinggi juga berpotensi masih terjadi di perairan selatan Jawa Tengah.

“Saat ini masih dipengaruhi angin timuran namun kecepatannya lambat laun akan berkurang seiring dengan bervariasinya arah angin. Nanti kalau arah anginnya sudah bervariasi, gelombang tinggi akan berkurang,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...