Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Mbah Parmo Tak Ingin Seni Kentrung di Jepara Terkubur Bersama Dirinya

Mbah Parmo memraktekan kebolehannya bermain terbang atau rebana, Sabtu (23/9/2017). (MuriaNewsCom/Padang Pranoto)

MuriaNewsCom, Jepara – Seni Kentrung mendarah daging pada diri Parmo (65), namun di usia senjanya ia merasa was-was kalau-kalau seni bertutur itu akan ikut mati bersamanya.

Ketakutannya itu seolah nyata, karena hingga kini belum ada murid yang mau diwarisi seni khas pesisir utara Jawa itu. Dan faktanya di Jepara, seni itu tinggal dua orang yang menguasainya yakni Parmo dan Madi

Ketika MuriaNewsCom, menyambangi rumah Mbah Parmo di Gang Kentrung Desa Ngabul-Tahunan, Sabtu (23/9/2017), pria berkumis putih itu mengaku sedang mengurus kambing-kambing peliharaannya. Sambil menyesap rokok kretek tanpa filter, ia bersedia bercerita tentang apa itu seni kentrung dan bagaimana ia bisa menceburkan diri didalamnya.

Kepulan asap putih dari mulutnya tak berhenti menyembur. Mbah Parmo menguraikan kentrung adalah seni bercerita diiringi tabuhan terbang (rebana). 

Ceritanya sendiri berasal dari hikayat ataupun legenda mengenai suatu daerah.

“Kesenian kentrung niku nabuh terbang karo ngomel, diseseli parikan kanggo senggakan. Biasane dimainke wong loro, sing siji cerita sejarah, sijine nyenggaki (Kesenian kentrung adalah menabuh terbang sambil bercerita, kemudian diselipkan pantun sebagai penjeda. Biasanya dimainkan dua orang, yang satu bercerita tentang sejarah dan yang satu berpantun),” katanya yang mengaku tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik.

Ia sendiri bisa Ngentrung karena belajar secara otodidak tanpa panduan dari ayahnya, Subari pada sekitar tahun 1964. Lantas pada tahun 1970 ia dipercaya tampil satu panggung dengan ayahnya. Tugasnya adalah nyenggaki, atau berpantun. Sementara itu ia diminta oleh ayahnya untuk memelajari dan mengingat setiap hikayat yang dituturkan oleh gurunya itu.

Ceritane Kentrung iku babagan sejarah, kayata Angling Dharma, Jalak Mas, Murtosiyah, Juwarsah, lan Joharmanik. Mbiyen pa’e duwe catetane pakem, tapi disilih uwong ora balik. Dadi saiki aku ora duwe pakem tulis, pakemku iki ya saka ngelmu rungok saka bapaku Subari (Cerita kentrung berkisah tentang sejarah, seperti Angling Dharma, Jalak Mas, Murtosiyah, Juwarsah, dan Joharmanik. Dulu ayah saya punya catetan pakem tentang lakon itu, tapi bukunya dipinjam orang dan tidak kembali. Jadi sekarang aku tak punya panduan secara tertulis, cerita yang kini ku ceritakan berasal dari ilmu mendengarkan dari bapak saya),” kenangnya.

Dulu saat zaman keemasan kentrung di Jepara, setidaknya tercatat ada delapan orang yang memainkan seni tersebut. Namun sekarang hanya tinggal dua orang yang masih ngentrung.

Mbiyen ana Pak Rus, Sumo, Suhari, Kamsi, Paidi dan Karisan, klebu kula Parmo kaliyan Madi. Tapi saki kari aku karo Madi,( Dulu ada seniman kentrung seperti Rus, Sumo, Suhari, Kamsi, Paidi dan Karisan, termasuk aku Parmo dan Madi. Namun sekarang tinggal saya dan Madi yang masih ngentrung),” ujarnya.

Kini ia memang hanya bermain dengan Madi, saudara satu guru. Menurutnya, hingga kini belum ada orang yang benar-benar tertarik memelajari kesenian itu. Banyak orang yang melakukan penelitian, namun untuk memelajari dan mementaskannya tidak ada.

Mbah Parmo sangat menyayangkan hal tersebut, karena menurutnya seni tersebut tak hanya hiburan dan mata pencaharian, namun didalamnya mengandung pembelajaran. Sementara anak-anaknya hingga kini belum mau mempelajari seni kentrung itu dengan serius.

 “Sinau Ngentrung iku ora gampang, kejaba kudu isa nabuh terbang kudu cerdas ngapalake sejarah lan paling penting kuat mental ngadepi wong akeh (Belajar ngentrung itu tidak gampang, selain bisa memukul terbang tapi harus cerdas menghapalkan sejarah dan paling penting mentalnya harus kuat menghadapi orang banyak),” ungkap Mbah Parmo.

Ia mengatakan, telah mengumumkan bahwa dirinya sanggup untuk mengajari seni kepada siapa saja yang berminat. Itupun akan diajarinya tanpa biaya, namun hingga kini belum ada satupun yang mau.

Eman-eman yen ilang, kula siap upami wonten ingkang ngregem ilmune kula ngentrung, kula nggih pun sepuh.  Sedaya niku mboten usah mbayar (Sayang kalau seni ini sampai hilang, saya siap menerima murid yang mau dan tidak usah membayar),” pungkasnya.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...