Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Begini Latar Belakang Kades Penawangan Pemasang Ratusan Lampu Sebagai Pengusir Hama

Kepala Desa Penawangan Tri Joko Purnomo di areal tanaman bawang merahnya yang dipenuhi ratusan lampu penerangan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Ide pemasangan lampu penerangan di lahan sawah milik Kades Penawangan Tri Joko Purnomo ternyata berawal dari hal yang dianggap cukup sepele. Sekitar sebulan lalu, Joko sempat membawa pulang sebagian hasil panen bawang merahnya yang terserang ulat.

Hasil panen kemudian dijemur di halaman rumah untuk mengeringkan daun bawang merah. Sebagian hasil panen itu terdapat serangga dan telur yang menempel pada daun bawang merah. Hal itu diketahui saat Joko mencoba mengamati kondisi tanaman yang dibawa pulang tersebut.

Saat malam harinya, di ruang tamu rumah Joko mendadak banyak serangga beterbangan di dekat lampu penerangan. Tidak berselang lama, ada beberapa kelelawar yang masuk ke dalam rumah dan memakan serangga-serangga tersebut. Setelah tidak ada mangsa lagi, kelelawar itu kemudian pergi dari rumahnya dan berkeliaran di alam bebas.

“Selama ini, hampir tidak ada kelelawar yang masuk rumah meski pintunya terbuka lebar. Dari peristiwa inilah, kemudian muncul ide memasang lampu penerangan di sawah,” jelas Joko.

Meski sudah ada ide, namun pemasangan lampu tidak langsung dikerjakan. Soalnya, Joko butuh mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu.

Baca Juga: Hebat!! Kades di Grobogan Ini Sukses Manfaatkan Lampu Listrik untuk Berantas Hama di Bawang Merah

Termasuk diantaranya mencari informasi soal kelelawar yang biasa makan serangga. Hal itu perlu dilakukan karena selama ini yang dia tahu baru sebatas jenis kelelawar pemakan buah atau biasa disebut codot oleh orang Jawa.

Dari keterangan yang didapat jenis kelelawar itu ada tiga macam. Selain codot, ada yang disebut Lowo yang makan serangga dan jenis penghisap darah atau biasa disebut Kalong.

Setelah ditelusuri, populasi Lowo itu banyak terdapat di sekitar lahan bawang merahnya. Yakni, dikolong jembatan sungai Serang yang jaraknya tidak sampai 1 km disebelah timur areal sawahnya.

Usai mengumpulkan informasi, Joko kemudian mantap memasang lampu penerangan di areal sawah. Berbagai kebutuhan dipersiapkan untuk merealisasikan idenya. Seperti, membeli kabel, fiting, lampu, dan menyiapkan tiang bambu. Selain itu, satu unit mesin genset miliknya juga disiapkan untuk menyuplai arus listriknya.

Sekitar 20 hari lalu, ratusan lampu mulai dipasang. Lampu dipasang diketinggian 2,5 meter dari tanah. Posisi lampu dipasang cukup tinggi untuk memudahkan kelelawar menyambar mangsa.

Untuk pemasangan lampu penerangan di lahan hampir 5 hektar itu, Joko menghabiskan dana sekitar Rp 15 juta. Biaya itu sudah termasuk ongkos tukang khusus yang memasang jaringan instalasi listrik.

“Investasi awal memang terlihat cukup besar. Tetapi, kalau dihitung ketemunya murah. Soalnya, instalasi ini bisa dipakai dalam jangka panjang. Tidak hanya sekali pakai saja,” cetusnya.

Setelah 20 hari dipasangi lampu, serangga yang singgah pada tanaman bawang merah mulai berkurang. Kondisi ini, berimbas dengan berkurangnya frekuensi penyemprotan insektisida pada tanaman yang menjadikan biaya perawatan turun.

Sejak dipasang lampu, penyemprotan tanaman hanya dilakukan 2 kali dalam seminggu. Sebelumnya, dalam sehari, penyemprotan bisa dilakukan dua kali.

Soal biaya operasional dinilai Joko tidak terlalu besar. Setiap hari, lampu dinyalakan selama 12 jam, mulai pukul 17.30 sampai 05.30. Dalam sehari, ongkos yang dikeluarkan sekitar Rp 40 ribu untuk beli solar mesin genset.

Joko mengaku, metode menekan hama bawang merah dengan lampu penerangan sudah mulai diadopsi beberapa petani lainnya. Bahkan, petani dari Kecamatan Klambu juga mulai memasang lampu penerangan karena hasilnya dinilai cukup bagus.

Editor: Supriyadi

Comments
Loading...