Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Putung Rokok Diduga Sebagai Biang Kebakaran Hutan Gundih Grobogan

631
Kawasan hutan jati di pinggir Jalan Purwodadi-Solo KM 16 yang terbakar tampak menghitam, Senin (28/8/2017). (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Terbakarnya kawasan hutan milik Perhutani KPH Gundih, di Grobogan, dimungkinkan dari tindakan sepele.

Yakni, adanya orang yang membuang puntung rokok sembarangan, sehingga mengenai daun-daun kering dan akhirnya menyulut kebakaran pada Minggu (27/8/2017) malam.

“Penyebab kebakaran diduga berasal dari puntung rokok. Kemungkinan, ada pengendara yang membuang puntung rokok secara tak sengaja, hingga terbawa angin dan mengenai daun serta dahan-dahan kering,” jelas Wakil Administratur KPH Gundih Kuspriyadi pada wartawan, Senin (28/8/2017).

Menurutnya, dugaan itu sangat dimungkinan karena lokasi kejadian berada di pinggir jalan raya Purwodadi-Solo km 16. Setiap hari, jalur ini banyak dilewati pengendara lintas kabupaten. Baik motor, mobil atau kendaraan besar.

Kebakaran di kawasan hutan itu terjai puluk 18.15 WIB dan bisa dipadamkan dua jam kemudian. Dari pantauan di lapangan, bekas kebakaran masih terlihat jelas. Banyak pohon jati dan tanah yang menghitam akibat terjilat api.

Tidak jauh dari lokasi kebakaran, terdapat tumpukan sampah. Meski sudah ada plang larangan, namun banyak orang masih membuang sampah di kawasan itu.

Baca : 4 Hektare Hutan Perhutani Gundih Grobogan Terbakar

Administratur KPH Gundih Sudaryana menambahkan, kebakaran tersebut tidak sampai mematikan pohon jati yang ada di petak 103B seluas 4 hektare tersebut. Menurutnya, pohon jati memiliki kelebihan tahan dengan kebakaran.

“Meski kena kebakaran tetapi kondisi pohon masih tetap hidup. Kejadian kebakaran ini sudah jadi perhatian serius saat musim kemarau,” ujarnya.

Dia menyatakan, kerawanan kebakaran di musim kemarau pada hutan jati memang cukup tinggi.

Setelah kebakaran tersebut, pihaknya akan membuat sekat dengan membersihkan dedaunan yang mengering di sekitar hutan, sehingga risiko kebakaran bisa dipersempit. Selain itu, upaya lain adalah memberikan penyuluhan kepada warga.

Editor : Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.