MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Petani Tebu di Kudus Ngluruk Istana Negara, Ini yang Mereka Tuntut

993
Para petani tebu dari Kabupaten Kudus sebelum bertolak ke Jakarta untuk menggelar aksi demo. (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Kudus –  Puluhan petani tebu dari Kudus, ngluruk ke Jakarta untuk memprotes kebijakan pemerintah mengenai gula, Senin (28/8/2017) hari ini. Mereka bergabung dengan para petani tebu lain dari seluruh Indonesia yang merasa nasibnya tak digubris pemerintah.

Aksi ini digelar lantaran para petani tebu merasa tercekik dengan kebijakan pembelian gula yang sangat murah, dan dibukannya keran impor. Tempat yang bakal menjadi lokasi demo adalah Istana Negara serta kementerian terkait.

Para petani tebu ini bertolak dari Kudus Minggu (27/8/2017) dengan menumpang bus. Mereka mendesak pemerintah agar mengeluarkan kebijakan pembelian gula segarga Rp 11 ribu per kilogram.

Seorang petani yang ikut berangkat, Agus, mengatakan jumlah petani tebu yang ikut aksi asal Kudus sejumlah 49 petani.

“Ada sejumlah tuntutan yang akan kami sampaikan. Seperti halnya meminta pemerintah mengehentikan impor gula ke Indonesia. Khususnya saat musim giling seperti saat ini,” katanya kepada wartawan.

Mereka mendesak pemerintah menghentikan impor gula, lantaran gula produksi petani lokal masih belum terserap.

Ini dikarenakan kebijakan Bulog yang membeli gula jauh di bawah biaya produksi. Agus menyebut, Bulog hanya membeli gula produksi petani seharga Rp 9,7 ribu per kilogram.

Padahal biaya produksi yang mereka keluarkan mencapai Rp 10,600 per kilogram. Apalagi saat ini menurut dia, kondisi petani tebu tengah terpuruk, lantaran curah hujan yang cukup tinggi beberapa waktu lalu, hingga membuat hasil panen tak maksimal.

“Akibat cuaca kami mengalami rugi banyak. Jika biasanya bisa menghasilkan 1.000-1.200 kuintal per hektare, kini turun menjadi 500-600 kuintal per hektarenya. Apalagi tanaman tebu dalam panen membutuhkan 10 bulan,” ungkap dia.

Sementara, Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin menambahkan, Bulog membeli gula petani masih di bawah   biaya pokok produksi (BPP) Rp10.600 per kilo. Untuk itu, kini petani menolak menjual gula ke perusahaan milik negara itu.

“Pemerintah harus bertindak dengan menghentikan impor gula. Karena hancurnya harga gula disebabkan impor tersebut,” imbuhnya.

Editor : Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.