Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ini Jawaban Saksi Ahli Ketika Ditanya Terdakwa Soal Etika Jurnalistik

Dewan Kehormatan PWI Jawa Tengah Sri Mulyadi seusai menjadi saksi ahli dalam persidangan lanjutan kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan yang dilakukan oleh oknum karyawan PLTU Sluke Rembang di PN Rembang, Selasa (20/6/2017). (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom,Rembang – Sidang lanjutan kasus dugaan kekerasan terhadap wartawan oleh oknum karyawan perusahaan tersebut bernama Suryono (30) warga Desa Grawan Kecamatan Sumber, kembali digelar pada Selasa (20/6/2017).

Dalam sidang ini, juga dihadirkan saksi ahli dari Dewan Kehormatan PWI Jawa Tengah Sri Mulyadi. Dalam kesempatan itu, saksi ahli sempat mendapatkan pertanyaan dari terdakwa Suryono ketika majlis hakim memberikan kesempatan.

Terdakwa melontarkan dua pertanyaan kepada saksi ahli. Pertama mengenai etika seorang jurnalis apabila ditanya tentang statusnya apakah wartawan atau tidak, tetapi tidak menjawab.

Yang kedua, mengenai tidakkah boleh menaruh rasa khawatir terhadap mereka yang mengambil-ambil foto saat kejadian kecelakaan kerja itu sebagai pesaing bisnis yang apabila menyebarluaskan berita soal terjadinya kecelakaan kerja, akan menjadikan jelek perusahaan sendiri.

“Bagi wartawan tidak menjawab pernyataan mengenai ‘apakah kamu wartawan?’ adalah pilihan. Sebab, jangan-jangan yang sedang bertanya ini adalah seorang yang mengancam keselamatan jiwa wartawan. Dalam kasus tertentu, wartawan ini bisa jadi sasaran kekerasan sehingga butuh keamanan,” jawab Mulyadi menjawab pertanyaan pertama terdakwa.

“Kalau soal apakah wartawan itu ada kerjasama dengan perusahaan pesaing atau tidak; bahwa wartawan itu tidak berurusan dengan apakah ketika sebuah berita keluar atau tayang akan bikin perusahaan tertentu atau orang tertentu rugi secara bisnis. Wartawan membuat berita yang layak dan disertai dengan cek dan mengecek lagi,” imbuhnya.

Selain itu, mengenai wartawan tidak mengenakan ID card saat bertugas. Menurutnya itu ada dua hal. Di antaranya yakni apakah wartawan hadir pada kejadian yang sifatnya terencana dan kejadian yang spontan atau “by accident”.

“Misalkan gini, kalau pada kejadian terencana wartawan tidak bawa ID card, itu perlu dipertanyakan. Akan tetapi pada kejadian yang by accident, boleh tidak pakai ID card karena mungkin lupa membawa. Tetapi pada saat konfirmasi atas sebuah berita, maka seorang wartawan harus jelas identitasnya,” katanya.

Begitu pun soal izin meliput kejadian, seorang wartawan bisa jadi perlu izin tetapi juga bisa tidak. Pada kasus wartawan dengan karyawan PLTU Sluke di RSUD dr R Soetrasno, izin liputan mesti dari pihak rumah sakit, sedangkan penghalang-halangan oleh pihak lain harus dipertanyakan.

“Jika pelarangan dilakukan secara baik-baik, mungkin wartawan akan menghormati. Tetapi misalnya pada saat liputan berita yang tidak terencana, misalnya kecelakaan lalu lintas, wartawan tidak perlu izin. Baru nanti guna kelengkapan dan faktualitas, wartawan akan menghimpun data dan konfirmasi,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...