Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kotekan, Tradisi Ramadan yang masih Bertahan

SERBA SERBI RAMADAN

Anak muda melakukan kegiatan klotekan di salah satu wilayah di Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Sabtu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Sepanjang Ramadan, suasana di sejumlah perkampungan di Kota Purwodadi terdengar semarak menjelang waktu sahur. Hal itu seiring banyaknya kegiatan yang dilakukan sejumlah warga untuk membangunkan warga agar tidak terlambat sahur.

Salah satu kegiatan ini adalah kotekan. Alunan suara yang muncul dari beragam benda yang dipukul sejumlah remaja hampir tiap malam terdengar. Di sela-sela alat musik yang ditabuh, mereka juga berteriak membangunkan orang untuk sahur. “Sahur. Sahur,” teriak mereka.

Di daerah Grobogan, aktivitas para penggugah sahur ini lazim disebut kotekan.  Biasanya, pelaku kotekan ini membentuk sebuah tim dengan anggota sebanyak 5 sampai 15 orang. Kebanyakan anggota tim ini adalah anak-anak dan remaja. Mereka yang sudah menginjak dewasa biasanya sudah menyerahkan tongkat estafet kotekan pada adik-adiknya.

Hampir di semua perkampungan khususnya, di kawasan kota, setiap malam masih terdengar suara kotekan untuk membangunkan orang kampung itu agar segera mempersiapkan sahur.

Misalnya, di Kampung Jengglong Barat, Jetis, Kuripan, dan Jagalan. Aktivitas kotekan ini biasanya dimulai pukul 01.30  WIB sampai pukul 03.00 WIB.

Untuk kegiatan kotekan itu, tidak ada peralatan khusus yang disiapkan. Beragam alat musik buatan yang dibawa anak muda itu berasal dari barang keperluan dapur. Misalnya, sendok, piring, panci dan botol kaca.

Ada pula yang membawa kentongan dari bambu untuk menambah variasi suara. Selain itu, ada pula yang membawa ember atau galon air isi ulang. Jika ditabuh, suara yang keluar terdengar cukup lantang seperti suara drum.  

Kehadiran tim kotekan itu dirasa cukup membantu warga sekitar. Masalahnya, mereka tidak khawatir terlambat bangun untuk bersahur. Meski begitu, ada pula yang merasa sedikit terganggu dengan kehadiran tim kotekan itu. Soalnya, mereka terkadang kaget dengan suara musik yang dipukul terlalu keras.

”Kadang-kadang, mereka itu suka bikin kaget. Soalnya, mereka ini mukul alat musiknya keras banget. Meski begitu, adanya orang kotekan itu memang cukup membantu,” ujar Lastri, ibu rumah tangga di Kampung Jetis.

 

Editor : Akrom Hazami

 

Comments
Loading...