Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Nelayan Cantrang di Rembang Masih Enggan Ganti Alat Tangkap

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Kabupaten Rembang, Sukoco. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Nelayan cantrang di Kabupaten Rembang masih enggan mengganti alat tangkap jenis cantrang ke gillnet millenium. Keengganan tersebut, salah satunya terkendala dengan pendanaan atau modal.

Kepala Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tasikagung Sukoco mengatakan, di Rembang ada sekitar 252 nelayan cantrang yang telah menandatangani pakta integritas untuk mengganti alat tangkap. Namun, dari jumlah tersebut  baru ada 10 persen nelayan yang telah memproses peralihan alat tangkap.

“Ada beberapa nelayan yang telah merekondisi kapalnya untuk beralih alat tangkap. Secara formal, persentasenya baru sekitar 10 persen dari jumlah nelayan cantrang. Dari ke 10 persen itu, mereka merekondisi ke daerah Juwana. Yang lainnya reposisi menunggu kebijakan lebih lanjut,” ungkapnya.

Dengan minimnya komitmen nelayan untuk beralih alat tangkap, menurutnya, pemerintah perlu melakukan terobosan-terobosan baru untuk mengatasi, apabila sampai jangka waktu toleransi habis, namun masih banyak nelayan yang belum beralih alat tanggkap.

“Para nelayan cantrang banyak yang terkendala soal pendanaan, sehingga keberatan jika harus menghutang lagi. Saat ini, mereka justru berfikirnya yang penting bisa melaut dan mendapat untung, tanpa berfikir beralih alat tangkap yang telah direkomendasikan oleh pemerintah,” ucapnya.

Di sisi lain, Hamzahar, salah satu nahkoda KM Putra Indah II mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum ada rencana untuk beralih alat tangkap. Pasalnya hutang untuk modal pada sebelumnya masih belum lunas.

“Mau giimana lagi, orang hutang sebelumnya masih belum lunas, masak mau menghutang lagi. Kalau nelayan cantrang disuruh berganti alat tangkap, maka masih banyak kendala,” tambahnya.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...