Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Mbah Jonggo, Loper Koran yang Jadi Rujukan Cerita Perkembangan Kota Purwodadi

Mbah Jonggo jadi loper koran di Purwodadi sejak tahun 1962 atau 55 tahun lalu. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom,Grobogan – Bagi warga yang tinggal di kawasan Kota Purwodadi, pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok Pujangga atau yang lebih akrab disapa Mbah Jonggo. Sebab, setiap pagi, pria yang sekarang sudah berusia 80 tahun itu selalu menyusuri jalan utama maupun perkampungan di kawasan kota menggunakan sepeda ontel jadul.

Aktivitas rutin yang dilakukan itu memang sudah sesuai dengan bidang kerjanya. Yakni, menjadi seorang loper koran.

Pekerjaan jadi loper itu sudah ditekuni cukup lama. Tepatnya, sejak tahun 1962 atau 55 tahun lalu. Saat itu keberadaan loper belum begitu banyak, hanya ada tiga orang termasuk dirinya.

Saat itu koran yang dia jajakan ada tiga macam. Yakni, harian Tempo, Angkatan Bersenjata serta mingguan Gema Masa. Harga koran saat itu Rp 25 per eksemplar.

”Jumlah pelanggan saya saat itu juga cukup banyak, Mas. Sekitar 50 orang,” ujar pria yang lahir di Purwodadi 17 Agustus 1937 atau 8 tahun sebelum proklamasi kemerdekaan dikumandangkan itu.

Mbah Jonggo mengambil koran saat itu di Stasiun Purwodadi yang dikirim melalui kereta api dari Demak. Saat itu, Jonggo berposisi jadi sub agen Pamannya bernama Singgih yang tinggal di Demak. Pamannya itulah yang mengajarinya jadi loper Koran ketika masih muda.

Sebagai modal kerja, pamannya membelikan sebuah sepeda yang saat itu harganya Rp 700. Sebuah harga yang cukup mahal untuk ukuran saat itu. Dengan berbekal sepeda, mulailah dia beralih profesi dari tukang becak menjadi loper koran sampai sekarang.

Lantaran cukup lama menekuni pekerjaanya, Mbah Jonggo sering jadi rujukan bagi orang yang ingin mengetahui perkembangan Purwodadi. Sebab, Mbah Jonggo lah salah satu orang yang dinilai paling hafal kondisi tiap sudut Kota Purwodadi dari hari ke hari selama puluhan tahun terakhir.

“Memang banyak orang yang bertanya kondisi Kota Purwodadi dulu dan sekarang. Ada yang sekadar ingin tahu saja dan ada juga yang katanya mau dipakai untuk bikin laporan anak sekolah atau mahasiswa,” kata bapak lima anak itu.

Saat diminta sedikit bercerita, Mbah Jonggo kemudian menggambarkan kondisi Kota Purwodadi saat dia baru awal-awal jadi loper koran. Saat itu, kondisi kota masih lengang, belum banyak bangunan. Bahkan, di sepajang Jalan R Suprapto yang sekarang jadi jalan utama, masih terlihat rel kereta api yang waktu itu masih dipakai.

“Kondisi Kota Purwodadi dulunya kayak gini, sepi. Belum banyak bangunan dan kendaraan seperti sekarang. Saya cukup hafal kalau suruh cerita soal perkembangan kota Purwodadi karena setiap hari selalu berkeliling,” kata suami Tugiyem itu sambil menunjukkan beberapa foto jadul yang ada gambarnya ketika akan mengantar koran.

Foto jadul Mbah Jonggo dengan sepeda ontelnya di kawasan Simpang Lima Purwodadi. Foto ini diambil sekitar tahun 1980.(Dok. Pribadi)

Menurutnya, foto itu diambil oleh pemilik Toko Laris (agen koran terbesar di Purwodadi) sekitar tahun 1980. Ada beberapa lokasi pengambilan foto, yakni di sekitar kawasan Simpang Lima. Foto tersebut, beberapa waktu lalu diunggah ke internet oleh kawannya.

Meski memiliki sepeda motor dan bisa mengendarai, namun Mbah Jonggo tetap memilih mengantarkan koran dengan sepada tuanya itu. Menurutnya, dengan bersepeda ada dua keuntungan yang dia peroleh, yakni, bekerja sekaligus bisa berolahraga.

Kendati hanya mengayuh sepeda, namun, Mbah Jonggo tidak mau kalah bersaing dengan belasan loper koran lainnya yang menggunakan sepeda motor. Menurutnya, setiap pagi dia sudah mulai bekerja sejak pukul 04.30 WIB.

Begitu koran tiba, dia langsung bergegas mengantarkan ke rumah pelanggannya yang jumlahnya mencapai 200 orang. Sebagian pelanggannya sekarang adalah generasi keempat.

Kegiatan mengantar koran itu biasanya berakhir sampai pukul 09.00 WIB. Dengan catatan koran tidak terlambat tiba di Purwodadi.

Dari hasil jerih payahnya selama ini, dinilai sudah mencukupi. Selain biaya sehari-hari, pendapatannya juga bisa digunakan untuk menyekolahkan anak. Selama puluhan tahun, sebagian pendapatan juga disisihkan dan bisa dipakai beli sapi dan sawah.

Lalu sampai kapan akan menjadi loper? Saat ditanya masalah ini Mbah Jonggo mengatakan akan menekuni profesinya itu sampai benar-benar tidak mampu lagi mengayuh pedal sepeda.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...