Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Betah di Kampung Sendiri, Puluhan Mantan TKI di Tanjungsari Pati Budidayakan Lele

Anggota Komisi IX DPR RI Sri Wulan ikut memanen lele di kolam milik kelompok peternak lele di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Rabu (8/3/2017). (MuriaNewsCom)

MuriaNewsCom, Pati – Banyak warga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, yang menggantungkan hidup dengan mengais rezeki di luar negeri. Tawaran gaji besar, serta minimnya lapangan pekerjaan di daerah, membuat mereka rela pergi ke negeri orang untuk mengadu nasib.

Namun sebesar-besarnya gaji yang ditawarkan, kerja di negeri sendiri dirasa yang paling nyaman. Hal ini yang dirasakan oleh puluhan mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di desa itu. Kini mereka tak lagi kepincut untuk kembali ke luar negeri untuk mencari nafkah.

Mereka juga tak lagi pusing soal duit, karena mereka kini punya cara tersendiri untuk membuat dapur tetap ngebul. Para mantan TKI ini membentuk kelompok tani dan menekuni usaha budidaya ikan lele. Ada sekitar 30 mantan TKI yang kini serius menekuni budidaya ini.

Kelompok ini sudah mempunyai 80 kolam lele, dengan menyewa lahan seluas tiga perempat hektare. Setiap kolam mampu digunakan untuk membesarkan 5.000 benih lele. Benih ini dibeli secara patungan seharga Rp 600 ribu. Hasilnya luar biasa, dan sangat membantu perekonomian para mantan TKI ini.

Anggota Komisi IX DPR RI Sri Wulan, yang mengunjungi kelompok tani ini, Rabu (8/3/2017) pagi tadi juga mengaku cukup terkejut dengan semangat para TKI tersebut. Karena hanya dengan modal Rp 600 ribu, setiap tiga bulan sekali mereka bisa memanen ratusan kilogram lele.

“Setiap kali panen dari 5.000 bibit lele itu, mereka mampu mendapatkan hasil sampai 450 kilogram. Dari modal beli benih Rp 600 ribu, bisa mendapatkan hasil berlipat-lipat,” katanya kepada MuriaNewsCom.

Ia menyebut, budidaya lele ini bisa menjadi salah satu solusi untuk mendongkrak ekonomi warga. Terutama bagi para mantan TKI, agar tak perlu lagi pergi ke luar negeri. Hal ini sudah terbukti selama tiga tahun berjalan, usaha budidaya lele ini bisa cukup dimaksimalkan untuk seluruh anggota.

Melihat kegigihan para mantan TKI ini, dalam kesempatan itu, Sri Wulan langsung memberikan bantuan berupa mesin penyedot air. Bantuan ini diberikan lantaran ketika Sri Wulan menyaksikan panen lele, mereka terlihat kesusahan untuk menguras air di dalam kolam.

Tak hanya itu, kehadiran Sri Wulan di desa itu juga digunakan untuk menyerap aspirasi dan keluhan dari ratusan warga. Saat dialog dengan warga, anggota kelompok peternak lele ini juga menyampaikan keluhan yang mereka alami.

Seperti yang dikatakan ketua kelompok peternak lele di desa itu, Jumono. Ia meminta pemerintah memberikan perhatian dengan memberi pelatihan budidaya lele. Jumono mengaku selama ini sudah mengajukan adanya pelatihan dari dinas terkait, namun belum direspon.

“Sejak berjalan selama tiga tahun, belum ada pelatihan sama sekali. Kami sudah berkali-kali mengajukan proposal untuk pelatihan ke dinas terkait, namun belum ada yang dikabulkan. Kami sangat membutuhkan pelatihan ini, untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

Comments
Loading...