Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Temukan Fosil di Banjarejo Grobogan, Ini Cara Merawatnya Agar Tak Rusak

Warga Desa Banjarejo mengikuti acara sosialisasi yang diselenggarakan BPSMP Sangiran di balai desa setempat. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Kepala BPSMP Sangiran Sukronedi membeberkan cara merawat benda purbakala saat ditemukan. Hal itu bertujuan agar fosil tidak rusak. Itu disampaikan di Balai Desa Banjarejo Grobogan, Kamis (16/2/2017).

Menurut Sukronedi, ada beberapa hal yang perlu disampaikan pada masyarakat terkait dengan banyaknya penemuan benda purbakala atau cagar budaya di Desa Banjarejo dalam beberapa tahun terakhir. Antara lain soal Undang-Undang No 11 tahun 2010 tentang cagar budaya. Penyampaikan materi ini sangat penting agar masyarakat bisa paham dengan masalah tersebut.

Selanjutnya, masalah penyelamatan terhadap temuan yang terjadi juga disampaikan pada masyarakat. Utamanya, perihal pengangkatan fosil yang terpendam di dalam tanah. “Idealnya, kamilah yang melakukan pengangkatan, namun karena kondisi tertentu warga boleh melakukan pengangkatan fosil. Meski demikian, tata cara pengangkatan itu perlu kita berikan agar tidak terjadi kesalahan atau kerusakan,” kata Sukron.

Selain kehati-hatian, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengangkatan fosil. Misalnya, peralatan yang perlu disiapkan, dokumen foto posisi fosil sebelum diangkat dari berbagai sudut. Tidak kalah penting yang perlu dilakukan adalah mencatat data terkait pengangkatan fosil. Seperti, arah mata angin dari posisi fosil yang ditemukan, ukuran kedalaman tanah atau penggalian.

Kemudian, sebelum ditutup lagi lokasi penemuan, perlu diberi tanda dengan plastik atau bahan lainnya pada tempat fosil berada.  Ini penting jika suatu saat dilakukan lagi penggalian untuk memeriksa sampel tanah yang ada disitu. Dengan adanya tanda maka penelitian bisa dilakukan dengan tepat.

Satu hal lagi, setelah ditutup atau diuruk, lokasi penemuan hendaknya diberi tanda. Misalnya, dikasih tiang pancang dari kayu atau bambu untuk memudahkan mencari lokasi tersebut dikemudian hari.

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...