Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ini Alasan Warga Tanjungsari Grobogan Seberangkan Keranda Jenazah di Sungai Lusi

 

Inilah lokasi pemakaman warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan yang berada di sebelah utara Sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)
Inilah lokasi pemakaman warga Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan yang berada di sebelah utara Sungai Lusi. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan –  Proses mengebumikan jenazah menuju pemakaman dengan menyeberangi Sungai Lusi ternyata sudah dilakukan cukup lama. Kira-kira sudah ada 10 tahun. Namun, selama ini, belum pernah ada insiden hanyutnya pengiring jenazah yang ikut mengantar menuju pemakaman.

Peristiwa orang hanyut saat mengantar jenazah baru terjadi Rabu (8/2/2017). Seorang warga hanyut terseret arus Sungai Lusi di Dusun Ndoro, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kradenan. Korban diketahui bernama Jumeno (28) warga Desa Kalirejo, Wirosari yang saat itu sedang melayat kerabat dari istrinya.

“Praktik mengubur jenazah ke makam dengan menyeberang sungai sudah berlangsung lama. Jarak yang ditempuh lewat sungai lebih pendek daripada melalui jalan darat,” ungkap Kades Tanjungsari Tri Suryatno pada wartawan.

Menurutnya, kalau memaksa lewat darat harus memutar menempuh jalan lewat Wirosari jaraknya bisa sampai tujuh kilometer. Ada jalan lain berupa bekas rel kereta yang jalurnya cukup sempit dan jaraknya juga jauh. Sedangkan jika lewat sungai hanya butuh jarak tempuh beberapa ratus meter saja.

Terkait musibah tersebut, ia meyatakan, saat itu posisi korban berada di belakang keranda jenazah. Jumlah pelayat yang menyeberangi sungai sekitar 15 orang. Mereka semua menyeberangi sungai dengan cara berenang. Keranda di dorong oleh empat orang.

“Saat kejadian sebenarnya ada temannya yang sudah menolong. Tetapi, kaki korban malah nendang-nendang. Akhirnya korban hanyut dan semua pelayat tidak bisa menolong,” ujarnya.

Sementara itu, dari penelurusan di lapangan, sebenarnya di desa tersebut sudah ada tempat pemakaman di selatan sungai. Namun, sebagian lokasi makam longsor tergerus air sehingga praktis tidak dipakai lagi untuk pemakaman.

Akhirnya, warga melangsungkan penguburan jenazah di pemakaman yang ada di sebelah utara sungai. Di tempat pemakaman ini sudah dimakamkan sekitar 300 jenazah. Lokasi pemakaman di utara Sungai Lusi itu berada di tengah areal sawah. Jarak makam dari pinggir sungai sekitar 300 meter melewati jalan setapak.

Beberapa ratus meter di sebelah utara makam masih berupa areal sawah yang masuk wilayah Dusun Dayu, Desa Dapurno, Kecamatan Wirosari. Rumah penduduk paling pinggir di kampung ini berjarak sekitar 1 km dari tempat pemakaman warga Desa Tanjungsari.

“Kalau ada jembatan memang sangat menguntungkan. Tidak hanya untuk proses pemakaman ketika ada yang meninggal saja. Tetapi bisa jadi akses cepat menuju wilayah Kecamatan Wirosari. Adanya jembatan bisa lebih mendongkrak sektor perekonomian,” ungkap Susilo, warga setempat.

Editor : Akrom Hazami

Baca jugaDetik-Detik Mengerikan Korban Tenggelam saat Ikut Seberangkan Keranda di Sungai Lusi Grobogan

Comments
Loading...