Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

DPN APTRI Pertanyakan Pembelian PT GMM Blora oleh Perum Bulog

APTRI

MuriaNewsCom, Blora – Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI ) mempertanyakan pembelian PT Ghendis Multi Manis (PT GMM) di Blora, pada tahun 2016 oleh Bulog.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPN APTRI M Nur Khabsin mengatakan, kebijakan tersebut dinilai sangat dipaksakan, tidak rasional dan sarat “kepentingan” pihak tertentu. Mengingat hasil studi kelayakan Bahana Securitas pada Desember 2015 yang menyebutkan PT GMM tidak layak diakuisisi (Majalah Tempo Tanggal 22 Mei 2016).

“DPN APTRI mendesak penegak hukum untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembelian pabrik gula PT Ghendis Multi Manis (PT GMM) di Blora, Jawa Tengah tersebut,” katanya dalam rilis ke MuriaNewsCom, Rabu (8/2/2017).

Perum Bulog tetap memaksakan diri membeli pabrik gula di Blora tersebut termasuk utangnya. Padahal saat ini ada 11 pabrik gula BUMN ( 9 di antaranya di Jawa Timur )  yang akan tutup dan seharusnya dapat diambil alih oleh Bulog tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Kebijakan tersebut, tidak saja merugikan keuangan negara namun juga menyengsarakan petani. Sebagaimana diketahui, pabrik gula tersebut sangat tergantung pada pasokan impor raw sugar. Sebagai BUMN mestinya Bulog memprioritaskan pembelian gula produksi tebu rakyat dan sebagai sesama BUMN sebaiknya lebih mengutamakan “menghidupkan” kembali Pabrik Gula milik BUMN yang akan ditutup.

Selain itu, aksi korporasi Bulog tidak saja menjadi tanda tanya besar, tetapi juga dikawatirkan akan merugikan petani tebu bilamana nanti Bulog akan lebih mengutamakan impor bahan baku raw sugar.

Bulog juga menunjukkan kegagalan melaksanakan amanat pemerintah untuk menstabilkan harga gula nasional, terlihat dari Izin Impor yang dimiliki oleh Bulog berupa white sugar sebanyak 100.000 ton menjelang hari raya Idul Fitri.

Berikutnya  raw sugar 267.000 ton (bagian dari izin impor raw sugar yang diberikan kepada BUMN sebanyak 381.000 ton dengan janji kompensasi rendemen 8,5 % bagi petani tebu yang tidak terwujud) pada tahun 2016.

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...