Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Gawat, 70 Persen Hutan di Pegunungan Kendeng Gundul

 Asisten Perhutani (Asper) BKPH Penganten KPH Purwodadi, Ridho Haryanto, kanan tampak salah satu sudut hutan di wilayah kerjanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Asisten Perhutani (Asper) BKPH Penganten KPH Purwodadi, Ridho Haryanto, kanan tampak salah satu sudut hutan di wilayah kerjanya. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Pegunungan Kendeng mengalami kondisi gundul dengan jumlah tak sedikit. Tercatat, pegunungan yang membentang di sejumlah kabupaten itu mengalami kegundulan hingga 70 persen.

Asisten Perhutani (Asper) BKPH Penganten KPH Purwodadi, Ridho Haryanto mengatakan, dari luasan 2.334,3 hektare hutan di area BKPH Penganten, 70 persen di antaranya gundul.”Sebagian habis karena pembalakan liar dengan jumlah besar-besaran. Sedangkan sebagian lainnya alih fungsi menjadi lahan pertanian semusim. Dan itu yang paling banyak adalah tanaman semusim,” katanya di Kudus, Selasa (24/1/2017).

Menurutnya, saat ini kondisi pegunungan masih memprihatinkan. Banyaknya tanaman semusim jenis jagung, menjadi penyebab banjir bandang yang terjadi Jumat (20/1/2017) lalu. Sebab, tanaman jagung tak kuat menahan air sehingga air langsung turun dengan cepat. Sebenarnya pengawasan dan patroli sudah sering dilakukan petugas. Namun dengan jumlah petugas yang kurang dari 20 orang, membuat mereka kewalahan.

Apalagi mengingat jumlah luasan hutan. Karena itu dibutuhkan kesadaran masyarakat dan bantuan pihak terkait lainnya.”Kalau masyarakat Kudus khususnya Wonosoco dan sekitarnya sudah bagus. Kami berharap bantuan dari wilayah lainnya, sebab dari jumlah hutan terdapat 365,2 hektare yang merupakan kawasan hutan lindung dan selebihnya hutan produksi,” ujarnya.

Tentang pembalakan liar, dia menyebutkan sudah tidak dijumpai selama beberapa bulan terakhir. Hal itu dianggap wajar, karena hutan sudah habis ditebang oleh pembalak. Sementara bekas pembalakan menjadi pertanian semusim.

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...