Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Boleh Tahu, Apa Nama Resmi Monumen Tiga Pahlawan Perempuan di Bunderan Ngabul Jepara?

Siti Merie merqi194@yahoo.com
Siti Merie
merqi194@yahoo.com

SUDAH tahu jika ada ikon baru di Kabupaten Jepara, tepatnya di Bunderan Ngabul, Kecamatan Tahunan, berupa patung besar tiga perempuan yang dinilai pantas disebut sebagai pahlawan asal Kota Ukir? Bagi warga Jepara, mereka sudah pasti tahu akan ikon baru ini.

Bahkan, saking antusiasnya warga menyambut kehadiran ikon baru ini, sampai-sampai, landmark yang belum diresmikan itu, dikabarkan sudah retak duluan. Yang lebih mengkhawatirkan, titik di mana patung itu berada, menjadi titik kemacetan setiap sore hari. Selain titik jalur di mana anak-anak Jepara menyambut kehadiran bus telolet yang juga melintas setiap sorenya.

Saya tidak tahu persis, nama landmark baru itu apa. Ada yang menyebutnya patung tiga diva, ada yang menyebutkan patung tiga pahlawan, ada juga yang menyebutnya sebagai tiga patung perempuan, dan aneka rupa sebutan lainnya. Kalau kata Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara, nama resminya adalah Monumen Tiga Perempuan Legendaris Jepara. Panjang memang namanya. Karena, pemkab tidak ingin jika landmark itu hanya disebut patung.

Di awal pembangunannya, banyak yang kemudian meragukan fungsi dari patung tersebut. Apalagi yang bentuknya megah dengan ukiran di sekelilingnya yang berwarna emas, menambah kemegahan monumen. Sedangkan patungnya sendiri berwarna hitam legam, sangat kontras dengan ornamen di bawahnya. Tapi, barangkali ketiga patung itu memang tidak usah diperlihatkan dengan jelas, karena banyak yang sudah mengetahui siapa saja sosok ketiganya.

Ketiganya adalah orang-orang yang dianggap berjasa, bukan saja kepada Jepara, namun Indonesia. Ibu RA Kartini, Ratu Kalinyamat, dan Ratu Shima. Meski sosok yang terakhir ini, memang belum jelas diketahui apa dan bagaimana perannya terhadap Jepara itu sendiri. Berbeda dengan RA Kartini dan Ratu Kalinyamat, yang sudah diketahui jelas bagaimana perannya dan kiprahnya semasa mereka hidup, sehingga RA Kartini dinobatkan sebagai pahlawan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sedangkan Ratu Kalinyamat juga sedang diupayakan bisa mendapat gelar pahlawan, meski belum juga kesampaian.

Menurut buku ”Dari Relasi Upeti ke Mitra Strategis 2.000 Perjalanan Hubungan Tiongkok-Indonesia” karya Prof Liang Liji, disebutkan bahwa sebuah negeri bernama He Ling (Kalingga), ada pada masa Dinas Tang (618-907). Negeri itu, terletak di pulau tengah Laut Selatan. Tepatnya berada di Jawa Tengah, di mana di sebelah timurnya disebut Po Li atau Bali, di sebelah baratnya adalah Negeri Duo Bo Deng atau Jawa Barat. Ketiga raja di negeri itu, bahkan sudah sejak lama saling mengirimkan utusan ke Tiongkok, untuk mempersembahkan upeti.

Ratu Shima sendiri, diceritakan dalam buku tersebut, diangkat rakyatnya dengan gelar Xi Mo, yang diangkat pada masa Sang Yuan (674-675). Kaisar dari Dinasti Tang diceritakan sangat memuji orang He Ling (Kalingga) ini, karena memiliki peradaban dan budi pekerti yang tinggi. Terutama Ratu Xi Mo, di mana ketertiban dan perundangan ditegakkan dengan keras sekali. Contohnya bagaimana Ratu Xi Mo tidak pandang bulu dalam menghukum orang-orang yang melanggar aturan. Termasuk putranya sendiri yang harus dipotong jari kakinya hanya karena mengusik barang yang bukan miliknya dengan jari kaki tersebut.

Selain soal pemerintahan yang keras terhadap penegakan hukum, tidak disebutkan dengan rinci bahwa memang He Ling atau Kalingga terletak di Jepara. Ataupun ratunya pernah memerintah di Jepara. Jawa Tengah yang lokasi negaranya berhadapan langsung dengan Laut Jawa, bisa di mana saja. Bisa saja dahulunya, Kerajaan He Ling atau Kalingga ini memang adalah sebuah kerajaan luas dan memanjang, hingga ke bagian yang disebut Jepara tadi. Namun, selain cerita mengenai bagaimana Ratu Shima memerintah rakyatnya dengan keras sesuai aturan yang ada, tidak ada referensi lain yang secara persis menyebutkan bahwa Shima adalah penguasa Jepara.

Memang masih membutuhkan kajian yang sangat mendalam mengenai sosok Ratu Shima ini. Termasuk sejarah secara lebih mendalam dari sosok Ratu Kalinyamat, yang juga harus diterangkan secara gamblang kepada anak cucu kita nanti. Saat ini, yang lebih dihafalkan oleh semua orang adalah sejarah dari Raden Ajeng Kartini itu. Bahkan di tahun 2017 ini, jika tidak salah pada bulan April, sebuah film yang mengangkat sejarah Kartini karya Hanung Bramantyo, akan segera rilis di bioskop.

Ada satu hal yang sangat menarik, di mana ternyata dari dulu, Kabupaten Jepara ternyata identik dengan sosok perempuan. Belum ada sosok lain, termasuk laki-laki, yang mampu menandingi cerita kemasyhuran dari ketiga tokoh perempuan tersebut. Meski beberapa di antaranya hanya tersisa cerita legendanya saja, namun ketangguhan ketiga perempuan tersebut, sangatlah nyata. Tidak pernah ada usaha main-main yang dilakukan ketiganya, dalam upaya mengangkat kejayaan Jepara, terutama kejayaan para perempuannya.

Patung tersebut dibangun dengan dana yang juga tidak sedikit. Nilainya Rp 2,5 miliar sendiri untuk membangun ikon guna mengenang kebesara dari ketiga sosok perempuan tersebut. Namun, apakah perempuan di Jepara sudah mendapatkan porsi sesuai dengan keinginan ketiga pahlawan perempuan tersebut atau belum. Apalagi, jumlah penduduk perempuan di Jepara ternyata lebih banyak dari penduduk laki-laki.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jepara, pada tahun 2015 lalu, penduduk Kabupaten Jepara adalah sejumlah 1.188.289 jiwa. Di mana jumlah Laki-laki 592.482 jiwa, dan perempuannya 595.807 jiwa. Dari jumlah tersebut, terdapat laki-laki dewasa sebanyak 435.130 jiwa, perempuan dewasa 446.022 jiwa, laki-laki anak-anak 157.352 jiwa, dan perempuan anak-anak 149.785.

Jumlah angka kemiskinan di Jepara berdasarkan BPS adalah sebesar 8,55%, atau sebanyak 100.500 orang dikategorikan sebagai penduduk miskin. Tidak bisa dipungkiri bahwa keadaan ini juga membawa pengaruh terhadap catatan angka putus sekolah yang ada di Jepara.

Data pada tahun 2015, anak putus sekolah yang ada di Kabupaten Jepara sebanyak 646 anak, yang terdiri dari 60 siswa SD, 125 siswa SMP, 55 siswa SMU, dan 406 siswa SMK. Dan saya yakin, jumlah perempuan yang menderita putus sekolah, menempati peringkat tertinggi dari jumlah anak-anak yang putus sekolah tadi.

Belum lagi soal kekerasan terhadap perempuan. Kasusnya juga cukup tinggi di Jepara. Di mana pada tahun 2016 lalu, ada 55 kasus kekerasan yang menimpa kalangan perempuan dan anak. Sungguh ironis sekali, karena ternyata perempuan di Jepara belum sepenuhnya bisa sebagaimana yang dicita-citakan ketiga perempuan pahlawan tersebut.

Ini yang lantas menjadi pekerjaan rumah bagi para pemangku kebijakan di Jepara. Bagaimana mengembalikan situasi di mana perempuan bisa seberjaya Ratu Shima, Ratu Kalimanyat, dan Raden Ajeng Kartini, sesuai dengan masa di mana saat ini perempuan hadapi. Yang jelas berbeda dengan masa ketiga pendahulu tersebut.

Yang sedikit mengganjal bagi saya adalah, bagaimana pemilihan lokasi penempatan patung tiga perempuan itu dilakukan. Kenapa harus di tengah-tengah jalan di Bunderan Ngabul. Bukankah jalan di sana hanya butuh pemecah arus biasa saja. Karena jika dibangun patung, apalagi ditambah dengan fasilitas taman di sekelilingnya, yang terjadi adalah kawasan tersebut menjadi kawasan ramai, yang setiap saat didatangi masyarakat. Tidak mengherankan jika kemudian kawasan itu menjadi macet, dan justru membahayakan masyarakat itu sendiri karena arusnya yang padat. Karena masyarakat menganggap bahwa di sana ada lokasi baru yang bisa dijadikan tempat untuk refreshing.

Bandingkan dengan patung RA Kartini di tengah Kota Jepara. Di sana, tidak ada fasilitas lain yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk refreshing, karena hanya sekedar patung. Sehingga tidak menganggu arus lalu lintas yang memang padat. Alangkah lebih bagusnya jika dahulu di tengah-tengah bundaran itu, hanya dibangun bundaran saja sebagai pemecah arus, sedangkan patung tiga perempuan itu, menempati kawasan pinggirnya. Sehingga masyarakat akan leluasa memanfaatkan kawasan itu sebagai tempat refreshing. Dan yang jelas tidak akan mengganggu arus lalu lintas, dan terutama tidak membahayakan keselamatan mereka yang datang.

Namun karena sudah terlanjur, hendaknya Pemkab Jepara bersiap dengan konsekuensinya. Yakni melakukan penataan terhadap kawasan itu, sehingga masyarakat yang datang, bisa nyaman berada di sana. Terutama penataan kendaraan-kendaraan yang dibawa warga, yang terkadang mengganggu jalan karena diletakkan sembarangan. Ini yang harus dibenahi. Semoga saja, ada perhatian terkait hal ini.

Omong-omong, nama Monumen Tiga Perempuan Legendaris Jepara sepertinya terlalu panjang diucapkan ya. Kalian ada usulan mungkin, apa nama yang mungkin pendek, bermakna luas, gampang diingat, dan diucapkan? Silakan share, ya. (*)

Comments
Loading...