Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Saridin Diyakini Pernah Tinggal di Desa Durensawit Pati

Sejumlah pengunjung tengah mendaki menuju bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)
Sejumlah pengunjung tengah mendaki menuju bukit pandang di Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Desa Durensawit, Kecamatan Kayen, Pati diyakini penduduk setempat sebagai kampung yang dulu pernah ditinggali seorang tokoh legendaris, Saridin. Sebelum mendapatkan gelar Syeh Jangkung, Saridin memiliki pohon duren peninggalan orang tuanya di sana.

Satu pohon duren itu dibagi dengan Branjung, kakak iparnya. Saridin mendapatkan jatah untuk mengambil duren yang jatuh pada malam hari, sedangkan Branjung mendapatkan kesempatan pada siang hari.

“Duren sak wet, artinya duren satu pohon. Nama itu yang kemudian menjadi nama Desa Durensawit. Penduduk yakin, di desa inilah peristiwa itu terjadi. Kisah ini berkembang secara tutur tinular di tengah masyarakat,” ujar tokoh setempat, Krisno, Jumat (20/1/2017).

Branjung, lanjut Krisno, mulai berniat jahat dan ingin mengambil buah duren pada malam hari dengan menyamar sebagai macan. Dikira seekor macan betulan, Saridin yang datang hendak mengambil duren langsung menombaknya dengan bambu runcing.

Nahas, seekor macan tersebut ternyata Branjung, kakak iparnya sendiri yang mengenakan kulit macan. Saridin kemudian mendapatkan hukuman dari penguasa setempat, sebelum akhirnya mengasingkan diri dengan berguru ke Panti Kudus yang dipimpin Sunan Kudus.

“Di Desa Durensawit, ada tunggak sawit yang diyakini penduduk sebagai bekas pohon duren yang dulu pernah terjadi tragedi Saridin dan Branjung dalam kisah ketoprak. Meski bukti-bukti sejarah belum bisa membuktikannya, tetapi masyarakat yakin,” tuturnya.

Masih di Desa Durensawit, juga ada bukit pandang yang dijadikan kontak batin Ki Santa Mulya, menantu Maesura untuk melihat istrinya yang sedang mengalami masa hukuman pengasingan di Pulau Anakan. Kisah ini jauh sebelum zaman Saridin, karena Maesura adalah guru dari Suliwa pada zaman Kerajaan Malawapati dengan seorang raja, Prabu Angling Darma.

Edtitor : Kholistiono

Comments
Loading...