Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

APTRI Tidak Setuju dengan HET Gula yang Rp 12.500 per Kilogram

ILUSTRASI
ILUSTRASI

MuriaNewsCom, Kudus – Pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) untuk gila pasir sebesar Rp 12.500 per kilogram. Namun, Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menolak HET ini.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPN APTRI Nur Khabsyin mengatakan, HET yang ditetapkan pemerintah itu, didasarkan pada perhitungan yang tidak realistis, karena terlalu rendah. ”Mestinya dasar menentukan HET adalah dari besaran harga pokok penjualan (HPP) ditambah margin distribusi,” katanya.

Khabsyin mengatakan, untuk penentuan dasar HPP adalah dari biaya pokok produksi (BPP) ditambah margin untuk petani. Sedangkan untuk BPP tahun 2017, ada kenaikan pada komponen biaya tenaga kerja di kebun dan transportasi, akibat kenaikan BBM dan kenaikan harga barang.

”HET yang realistis itu kami nilai ada pada angka Rp 14 ribu. Karena BPP saat ini Rp 10 ribu, sedangkan HPP Rp 11.500. Yang penting ditetapkan sebetulnya adalah HPP gula tani, dalam rangka penyanggaan harga kepada petani. Bukan penentuan HET,” tegasnya.

Dikatakan Khabsyin, pihaknya beranggapan bahwa masyarakat tidak keberatan bila harga gula di kisaran Rp 14 ribu. Ini karena gula termasuk kebutuhan pokok, meski memang bukan yang paling utama.

”Banyak alternatif pemanis selain gula. Dan sebagian masyarakat juga tidak mengonsumsi gula. Lain halnya dibanding beras dan daging sebagai kebutuhan pokok yang utama. Penetapan HET hendaknya tidak berdasarkan harga gula luar negeri, tapi berdasarkan BPP dan HPP gula dalam negeri,” paparnya.

Khabsyin mengatakan, data produksi yang direndahkan dan data kebutuhan yang ditinggikan, hanya sebagai alasan utk menaikkan jumlah impor. Karena itu, pihaknya menduga ada rent seeking dalam soal impor.

Sedangkan terkait rencana pemerintah untuk impor raw sugar sebesar 400 ribu ton guna gula konsumsi, pihaknya juga tidak setuju. Pasalnya, stok gula saat ini sudah mencukupi. ”Jadi tidak ada alasan untuk impor dalam rangka menambah stok gula konsumsi. Stok gula dari produksi giling tahun 2016 itu ada 800 ribu ton. Ditambah sisa eks impor tahun 2016 sebesar 1 juta ton. Sehingga stok itu masih sangat cukup. Bbahkan lebih, sampai dengan musim giling tahun 2017 yang dimulai pada bulan Mei 2017 mendatang,” imbuhnya.

Editor: Merie

Comments
Loading...