Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Pengusaha Jamur Sukses Asal Gembong Berbagi Teknik Budidaya Jamur yang Benar di Kawasan Pantura

Seseorang melihat budidaya jamur tiram yang dikembangkan Ali Mustofa (32), pengusaha muda sukses asal Desa Ngembes RT 2 RW 12, Kecamatan Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)
Seseorang melihat budidaya jamur tiram yang dikembangkan Ali Mustofa (32), pengusaha muda sukses asal Desa Ngembes RT 2 RW 12, Kecamatan Gembong, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Teknik budidaya jamur tiram di kawasan bersuhu panas seperti pantai utara Jawa (pantura) berbeda dengan perlakuan di daerah bersuhu rendah, seperti di dataran tinggi. Butuh teknik yang tepat agar petani di wilayah pantura sukses mengembangkan budidaya jamur tiram.

Ali Mustofa (32), pengusaha muda sukses asal Desa Ngembes RT 2 RW 12, Kecamatan Gembong, Pati berbagi tips untuk merekayasa agar pengembangan budidaya jamur tiram di wilayah pantura berhasil seperti di dataran tinggi bersuhu rendah. Menurut Ali, kuncinya ada pada kelembaban.

“Wilayah pantura memiliki iklim yang cukup ekstrem, suhu tinggi dan kelembaban kurang. Padahal, budidaya jamur butuh suhu minimal 23 derajat Celcius dengan kelembaban minimal 80 persen. Tapi jangan khawatir, kondisi itu bisa kita rekayasa,” ujar Ali.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengatur kelembaban suhu ruangan jamur tiram. Meski di wilayah pantura suhunya berkisar 30 hingga 34 derajat Celcius, petani bisa mengatur kelembaban minimal 80 persen. Dengan cara itu, petani bisa panen jamur tiram dari 3,5 sampai 4 ons setiap baglog.

Dengan begitu, pengembangan budidaya jamur tiram di wilayah pantura seperti Pati, Kudus, Rembang dan sekitarnya bisa dilakukan dengan baik menggunakan rekayasa kelembaban suhu udara. Ha itu bisa dilakukan dengan pompa air atau foger, asal uap air yang disiramkan ke ruangan bisa berlangsung dengan baik.

“Kalau di dataran rendah, air biasanya disiramkan langsung ke jamur. Beda perlakuannya bila di pantura dengan suhu tinggi, uap air harus disemprotkan di ruangan untuk menciptakan kelembaban. Petani binaan saya banyak yang berhasil menggunakan teknik tersebut dengan tampungan harga Rp 10 ribu per kilogram,” tuturnya.

Selain itu, ada pula hitungan kapasitas muatan. Misalnya, 10.000 bibit muatan harus ditempatkan di ruangan berkapasitas 10.000, tidak terlalu sempit atau longgar. Pasalnya, kondisi ruangan harus pas dengan jumlah bibit agar kelembabannya bisa menyesuaikan.

Ali mencontohkan, 10.000 bibit harus ditempatkan di ruangan berukuran 5×12 atau 8×10 meter. Bila ruang terlalu luas, penyiraman terlalu banyak, petani tidak bisa membuat kelembaban yang tepat.

Itu sebabnya, Ali akan memandu kepada semua mitra petani binaannya, mulai dari nol hingga pemasaran jamurnya. Risiko petani pemula yang mencari referensi dari internet tidak tahu kondisi apakah lokasinya berada di dataran tinggi atau pantura dengan suhu tinggi.

“Saya membuka kepada semua siapa saja yang ingin bermitra, saya akan ajari tekniknya dari awal sampai hasil jamur tiram ditampung dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Nilai hasil tampungan itu lebih tinggi ketimbang di dataran tinggi yang lebih rendah,” pungkas Ali.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...