Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Penerimaan Cukai Kudus Gagal Penuhi Target di 2016

Petugas memperlihatkan pita cukai di  Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe madya Kudus . (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)
Petugas memperlihatkan pita cukai di  Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe madya Kudus . (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) tipe madya Kudus, gagal mencapai target dalam penerimaan 2016. Selama 2016 ditargetkan penerimaan mencapai Rp 33,944 triliun.  Tapi hingga akhir tahun, penerimaan cukai yang dicapai Rp 32,527 triliun atau sekitar 95,82 persen.

Kepala KPPBC Kudus Suryana mengatakan, jumlah sekitar 95,82 persen merupakan persentase terkecil selama beberapa tahun terkahir. Namun secara jumlah angka, jumlah tersebut merupakan angka yang besar dalam penerimaan.

“Di 2014 lalu, berdasarkan data yang ada di kami jumlah penerimaan cukai di kami Rp 28.009 triliun. Jumlah tersebut berhasil didapatkan lantaran target yang diberikan sejumlah Rp  27.883 triliun, “ katanya kepada MuriaNewsCom, di Kudus, Sabtu (14/1/2017).

Sedangkan pada 2015, target cukai yang diberikan kepada KPPBC Kudus sejumlah Rp 35.189 triliun. Dari target yang diberikan, Kudus mampu mendapatkan hasil cukai Rp 34,428 triliun. Jumlah tersebut sekaligus jumlah terbesar selama tiga tahun terakhir

Dikatakannya, cukai yang dapat terima pada 2016 hanya sekitar 95 persen. Itu jumlah maksimal yang dapat diperoleh di 2016 karena beberapa hal yang mampu menghambatnya.

“Pertama karena waktu yang diberikan hanya 12 bulan, dan efektifitas hanya 11 bulan saja. Itu jelas mengurangi kami dalam kejar target penerimaan cukai,” ujarnya.

Berbeda halnya dengan 2015 yang dapat pemasukan banyak, satu periode bukanlah 11 atau 12 bulan. Melainkan mencapai 14 bulan lamanya. Hal itu dianggap mampu meningkatkan banyak penerimaan cukai.

Sedangkan, hal lainnya yang menyebabkan target tak dapat diperoleh adalah dengan menurunnya pemesanan cukai. Kondisi tersebut terjadi hampir di semua perusahaan rokok di kelas I, II, III a dan III b. “Selain itu aturan pendirian perusahaan rokok baru juga sangat ketat. Untuk itulah sangat sulit mengejar target di 2016 lalu,” ungkapnya.

Sedangkan di 2017 ini, pihaknya belum bisa menjelaskan lebih lanjut. Sebab target dari pusat tentang penerimaan cukai masih belum diterima.

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...