Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Melihat Upaya Pelestarian Kesenian Tari Jawa di Karangpaing Grobogan

Sumardi sedang memperhatikan anak didiknya melakukan gerakan tari di Karangpaing, Penawangan, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)
Sumardi sedang memperhatikan anak didiknya melakukan gerakan tari di Karangpaing, Penawangan, Grobogan. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Aktivitas yang dilakukan anak-anak pada hari libur sekolah kebanyakan dilewatkan dengan nonton televisi atau bermain. Namun, kondisi ini tidak terjadi di Desa Karangpaing, Kecamatan Penawangan.

Setiap libur, khususnya hari Minggu, ada aktivitas rutin yang dilakukan puluhan anak di desa itu. Yakni, mengikuti latihan tari yang bertempat di Sanggar Pamardi Budaya desa setempat. Sanggar tari ini berada di rumah Sumardi yang juga bertindak selaku pelatih tari. Setiap Minggu, sedikitnya ada 50 anak yang latihan tari.

Sebagian besar peserta latihan adalah warga Desa Karangpaing. Meski demikian, sejumlah warga dari desa sekitar ada juga yang tertarik untuk mengikuti latihan tari. “Latihan nari kita jadwalkan rutin tiap hari Minggu. Mulai jam 08 sampai jam 11. Mayoritas memang anak sini. Namun, ada juga beberapa murid dari desa tetangga,” kata Sumardi saat dikunjungi di sanggar tarinya.

Rutinitas anak-anak berlatih tari itu belum lama. Sekitar bulan Oktober tahun 2015 lalu. Sebelumnya, latihan tari hanya dilakukan secara temporer. Biasanya, saat akan menghadapi lomba atau ada acara tertentu. Seiring makin banyaknya peserta latihan, Sumardi merombak halaman rumahnya menjadi sanggar. Di halaman berukuran sekitar 10 x 10 meter didirikan bangunan dari konstruksi baja ringan.

Di bagian dinding samping kanan dan kirinya dilengkapi kaca. Kemudian diteras depannya ada sebuah banner dengan tulisan besar berbunyi ‘Sanggar Pamardi Budaya. “Pada dasarnya saya suka kesenian. Sekolah saya dulunya di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Surakarta,” ungkap pria yang sehari-harinya bertugas sebagai pegawai Tata Usaha di SMPN Tawangharjo itu.

Bapak tiga anak itu mendirikan sanggar tari bukan untuk tujuan komersial. Tetapi lebih disebabkan panggilan jiwa untuk melestarikan kesenian tradisional, khususnya tarian Jawa. Makin minimnya generasi muda yang menggeluti kesenian tradisional membuat pria berusia 51 tahun itu prihatin. Dari sinilah, Sumardi kemudian tergerak untuk mendirikan sebuah sanggar tari. Harapan utamanya, kesenian tradisional warisan leluhur tetap lestari di bumi pertiwi.

Dalam melatih tari, Sumardi tidak sendiri. Biasanya, juga dibantu istrinya Sri Sutarmi yang seorang guru SDN 01 Pengkol, Penawangan dalam melatih anak-anak. Di samping itu, tiga anaknya terkadang juga ikut membantu jika tidak ada kesibukan kuliah atau sekolah.

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...