Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kasus Pembunuhan di Grobogan Ini Butuh 7 Tahun untuk Ungkap Motifnya

 

Pelaku pembunuhan Suwarto (pakai peci) saat memperagakan adegan terjadinya peristiwa sadih tujuh tahun lalu yang dilakukan terhadap tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)
Pelaku pembunuhan Suwarto (pakai peci) saat memperagakan adegan terjadinya peristiwa sadih tujuh tahun lalu yang dilakukan terhadap tetangganya sendiri. (MuriaNewsCom/Dani Agus)

MuriaNewsCom, Grobogan – Untuk melengkapi berkas pemeriksaan, satuan Reserse Kriminal Polres Grobogan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan di Dusun Geneng, RT 4 RW 6, Desa Karanganyar, Kecamatan Geyer, Grobogan, Kamis (12/1/2017).

Dalam rekonstruksi ini, pelaku bernama Suwarto (31) diminta memperagakan delapan adegan. Mulai dari aktivitas menenggak miras di pos kamling sampai membunuh korbannya, menggunakan sebilah parang. Korban pembunuhan ini bernama Slamet (33) yang masih tetangga pelaku.

Pelaksanaan rekonstruksi lokasinya tidak dilakukan di tempat kejadian guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tempatnya dipindahkan di Kampung Sambak, Kelurahan Danyang, Kecamatan Purwodadi.

Kasus pembunuhan sadis itu terjadi pada minggu kedua bulan Agustus tahun 2009 lalu. Pelaksanaan rekonstruksi baru bisa dilakukan sekarang lantaran pelaku pembunuhan baru berhasil diringkus awal Desember 2016 lalu. Pelaku berhasil ditangkap di tempat persembunyian terakhirnya di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

Dalam rekonstruksi terungkap latar belakang terjadinya pembunuhan sadis itu. Penyebabnya, ternyata hanya masalah sepele.

Pelaku merasa tersinggung saat ditegur korban terkait tindakannya memecah botol minuman di depan rumah korban. Korban menegur pelaku karena khawatir pecahan kaca akan terinjak anak-anak kecil yang sering bermain di depan rumahnya.

Nasihat itu justru membuat pelaku naik pitam dan mengancam akan membunuh korban. Tidak lama kemudian, pelaku pulang ke rumah untuk mengambil parang dan membacok korban hingga meninggal.

Kasat Reskrim Polres Grobogan AKP Eko Adi Pramono mengatakan, pelaksanaan rekonstruksi sengaja digelar di luar lokasi pembunuhan untuk menghindari adanya gangguan dari masyarakat selama proses. Rekonstruksi diperlukan untuk melengkapi berkas perkara.

“Rekonstruksi ini bagian dari penyidikan untuk membuat kasus menjadi jelas. Selama proses rekonstruksi tidak ada hambatan,” katanya pada wartawan.

Menurut Eko, proses penangkapan pelaku memang memakan waktu lama. Soalnya, pelaku selalu bersembunyi dan berpindah-pindah tempat pelarian.

“Tidak lama selakukan pembunuhan, pelaku langsung melarikan diri hingga sampai ke Kalimantan. Kami sempat kesulitan melacak pelaku. Tapi berkat informasi dari masyarakat, pelaku akhirnya bisa kita tangkap,” imbuhnya. 

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...