Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Nasib Penjual Bambu di Pati Bergantung dari Kontraktor

Penjual bambu asal Tambaharjo, Pati mengaku sepi dari pembeli dalam waktu sebulan terakhir dan mengandalkan borongan dari kontraktor. (MuriaNewsCom/Lismanto)
Penjual bambu asal Tambaharjo, Pati mengaku sepi dari pembeli dalam waktu sebulan terakhir dan mengandalkan borongan dari kontraktor. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Komoditas bambu nyaris tidak terpakai dalam kehidupan masyarakat modern. Hal itu berdampak pada penjualan bambu di Pati yang mulai sepi peminat, karena masyarakat jarang membutuhkan komoditas bambu.

Jamin, misalnya. Penjual bambu asal Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati ini mengaku penjualan bambu menurun drastis menjelang tahun baru hingga sekarang. Terlebih, kebutuhan akan bambu di masyarakat sekarang ini diakui berkurang.

Namun, dia masih merasa lega karena keberadaan kontraktor yang acapkali memborong bambu yang ia jual dalam jumlah yang tidak sedikit. Hanya saja, nasib penjualan bambu juga bergantung pada nasib kontraktor.

“Kalau kontraktor lagi sepi proyek, imbasnya kita kena. Sebab, masyarakat sudah mulai jarang membeli bambu. Kalau kontraktor, biasanya dipakai untuk tiang sementara pembangunan dan berbagai kebutuhan pembangunan lainnya,” ujarnya, Kamis (12/1/2017).

Satu bambu yang dijual Jamin dihargai antara Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu, tergantung kualitas bambu. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, Jamin mengaku menjual bambu rata-rata satu batang per hari dengan keuntungan yang tidak seberapa.

Pasalnya, bambu-bambu yang ia jual didatangkan dari Kabupaten Blora. Kualitas bambu di sana diakui lebih berkualitas dan lurus ketimbang bambu asal Pati. Hal itu yang membuat Jamin memilih kulakan bambu dari Blora, kendati untung yang didapatkannya tidak seberapa.

Belum lagi, bambu semakin hari kian mengering dan berubah warnanya menjadi cokelat sehingga harganya semakin anjlok. Bila tak kunjung terjual, kerugian menjadi risiko yang kerapkali diterima Jamin.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...