Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kudus jadi Kota di Tengah Taman, Bukan Perawat Taman

Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com
Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

RASANYA baru kemarin dengar Bupati Kudus Musthofa bicara soal kota di tengah taman. Musthofa mengatakan ingin membuat Kudus jadi kota di tengah taman. Sebuah mimpi, menjadikan kota ini ramah dengan tatanan tanaman, dan hiasannya. 

Dengan rupiah yang tak sedikit, mimpi itu diwujudkan. Pada 2016, berdiri beberapa taman baru di Kudus. Pemkab benar-benar tak mau keinginan itu usang, hanya gara-gara telat merealisasi.

Taman begitu penting kehadirannya. Keberadaan taman dianggap mampu memberikan nilai lebih pada anugerah Adipura. Tidak heran, jika proyek pekerjaan taman di Kudus, ada di mana-mana.  Di antara nama taman yang dibangun, beberapa waktu terakhir adalah, Taman Simpang Tujuh, Taman Lampion, Taman TPA, taman di Tanggulangin, dan taman di perempatan Panjang.

Taman tersebut kini telah bisa dinikmati.  Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus, Sumiyatun, beberapa hari lalu, mengatakan ada sekitar 11 taman yang dibuat. Taman menyebar di berbagai sudut kota, dengan mayoritas letaknya di wilayah perkotaan.

Taman yang ada di kawasan perkotaan memang lebih mudah dijangkau dalam hal perawatan. Berbeda dengan kawasan pinggiran, perawatan taman tidak mudah. Lantaran akses menuju lokasi memakan waktu yang tak sebentar.

Pemkab Kudus ingin masyarakat membantu merawat keberadaan taman. Pemkab kewalahan jika harus merawat seluruh taman. Tanpa bantuan masyarakat, pemkab bakalan kesulitan menjaga taman.

Sayangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga taman masih kurang. Dia mencontohkan, seperti di taman Tanggulangin, Jati. Beberapa waktu lalu sekelompok orang datang ke taman tersebut. Namun bukannya menjaga keindahannya taman, namun malah membuat rusak beberapa titik rusak. Terlebih tanamannya.

Mendapatkan laporan itu, dia sendiri meninjau lokasi. Kemudian dia menegur sekelompok warga yang tak bertanggung jawab dengan aksi perusakan taman. Bukankah hal itu seharusnya bisa diantisipasi saat perencanaan pembangunan.

Upaya separuh hati selanjutnya adalah terbatasnya waktu operasi Taman Lampion. Setiap pekan, pengelola membuka taman hanya tiga malam, atau di malam tertentu saja.

Taman Lampion hanya dibuka selama tiga hari. Mulai dari Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam. Alasannya, jika dibuka setiap malam maka menimbulkan potensi kerusakan taman. Bukankah taman dibangun untuk masyarakat, untuk memanjakan warganya, atau, untuk menghidupkan suasana kota menjadi lebih humanis.

Pembatasan jam buka taman, hingga bingungnya perawatan taman, tampaknya memperlihatkan upaya setengah hati membentuk kota di tengah taman. Bukankah hal-hal seperti itu idealnya telah dipikirkan matang sebelumnya. Terutama saat perencanaan. Bukan saat taman sudah berdiri. (*)

 

Comments
Loading...