Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Nelayan Juwana Butuh Kepastian Hukum Soal Toleransi Penggunaan Kapal Cantrang

Sejumlah nelayan berada di atas kapal, usai bersandar di kawasan Pelabuhan Juwana, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Kabar yang menyebutkan adanya toleransi penggunaan alat tangkap ikan jenis cantrang hingga Juni 2017, ternyata tidak membuat nelayan di Juwana, Pati bisa bernapas lega. Pasalnya, sejumlah nelayan belum menerima informasi resmi dari pemerintah provinsi maupun pusat.

Meski awalnya sedikit lega, tetapi mereka butuh kepastian hukum. “Kami butuh kepastiaan informasi soal toleransi yang kabarnya diperpanjang hingga Juni 2017. Setidaknya, informasi itu kami terima secara tertulis biar ada kepastian hukum. Bila tidak, itu cukup berbahaya,” ujar Koordinator Front Nelayan Bersatu (FNB), Bambang Wicaksana, Selasa (3/1/2017).

Di satu sisi, mereka senang dengan kabar adanya masa toleransi penggunaan alat tangkap cantrang yang diperpanjang hingga Juni 2017. Di sisi lain, informasi tersebut cukup meresahkan, lantaran banyak nelayan yang saat ini ketakutan melaut karena batas penggunaan alat cantrang habis pada 31 Desember 2016 lalu.

“Saya banyak ditanya nelayan soal kepastian informasi itu. Saya tidak bisa jawab, karena saya butuh kepastian dan bukti nyata berupa surat resmi dari pemerintah. Kalau hanya sekadar kabar, kami tidak bisa menjawab kepada para nelayan,” imbuhnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, kabar beredar menyebutkan bahwa batas toleransi penggunaan alat tangkap ikan cantrang diperpanjang, setelah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyepakatinya dengan Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Alat tangkap cantrang sendiri dilarang pemerintah pada Januari 2015, karena masuk kategori pukat tarik.

Akibatnya, kebijakan tersebut menulai gejolak di kalangan nelayan. Aksi demonstrasi tak jarang dilakukan, hingga pemerintah akhirnya memberikan batas toleransi hingga 31 Desember 2016. Sampai saat ini, nelayan berharap ada bantuan dari pemerintah untuk beralih alat tangkap.

“Kalau mau ganti jenis alat tangkap, kita juga harus modifikasi kapal. Itu butuh biaya yang tidak sedikit. Itu belum termasuk ganti sarana pembekuan ikan yang harganya sangat mahal. Karena itu, peralihan alat tangkap dari cantrang ke jenis purse seine tidak semudah yang dibayangkan,” pungkas Bambang.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...