Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Pelarangan Kapal Cantrang Ditunda Hingga Juni 2017, Nelayan Juwana Sedikit Lega

Sejumlah kapal cantrang bersandar di kawasan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit I Juwana. (MuriaNewsCom/Lismanto)

MuriaNewsCom, Pati – Nelayan Juwana merasa sedikit lega, lantaran penerapan pelarangan kapal cantrang ditunda hingga Juni 2017. Sebelumnya, nelayan yang masih menggunakan kapal cantrang diberikan tenggang waktu hingga 31 Desember 2016 lalu.

Perpanjangan toleransi penggunaan kapal cantrang tersebut, menyusul kesepakatan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kesepakatan toleransi itu muncul, lantaran nelayan dianggap masih belum siap untuk meninggalkan kapal jenis pukat hela dan pukat tarik yang dilarang dalam Permen Nomor 2 Tahun 2015.

Bambang Wicaksana, salah seorang nelayan Juwana mengaku belum bisa meninggalkan kapal dengan alat tangkap cantrang. Jika dipaksakan, gejolak sudah pasti diakui akan terjadi di kalangan nelayan. Pasalnya, pemilik kapal akan berhenti melaut dan menunggu hingga ada bantuan untuk mengganti alat tangkap.

Akibatnya, banyak nelayan yang kehilangan pekerjaan karena tidak berani melaut. “Saat ini, sudah banyak kapal cantrang yang setelah bongkar, kemudian bersandar karena tidak berani melaut. Hal itu akan membuat kawasan parkir kapal di Juwana sangat padat. Karenanya, kebijakan toleransi hingga Juni 2017 ini cukup membuat kami lega,” ungkapnya, Senin (2/1/2017).

Di pelabuhan Juwana sendiri, setidaknya ada sekitar 500 kapal cantrang yang bersandar. Dari jumlah tersebut, 300 kapal milik warga Pati, sisanya milik nelayan asal Rembang dan daerah lainnya. Di tengah masa toleransi ini, nelayan masih menunggu bantuan dari pengusaha dan pemerintah untuk mengganti alat tangkap.

Untuk mengganti alat tangkap cantrang menjadi purse seine, setiap kapal membutuhkan biaya sekitar Rp 1 miliar. Biaya tersebut, belum termasuk modifikasi kapal untuk penyesuaian alat tangkap purse seine. Tak hanya itu, alat pendingin ikan juga akan menyesuaikan, sehingga total satu kapal diperkirakan mencapai Rp 3 miliar agar sesuai dengan aturan yang ditetapkan KKP.

Ironisnya, pemilik kapal sebagian besar sudah memiliki kredit di perbankan. Tak main-main, beberapa di antara pemilik kapal menjaminkan rumahnya untuk kredit perbankan. Karena itu, nelayan Juwana berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...