Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Harusnya Semua Jempol Bisa Seperti Jempol Telolet

Siti Merie  merqi194@yahoo.com
Siti Merie
merqi194@yahoo.com

ADA banyak kisah yang datang dari Jepara akhir-akhir. Semuanya menjadi cukup fenomenal, yang pastinya mampu mengangkat nama kabupaten paling utara di Pulau Jawa itu ke berbagai level. Baik nasional, bahkan internasional.

Pertama tentu saja adalah anak-anak yang berasal dari Desa Ngabul, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Mereka berhasil menduniakan seruan ”om telolet om”, yang lantas menjadi viral di dunia. Dari anak-anak ini, sekarang setiapkali ada kendaraan besar yang lewat, selalu saja mendapat permintaan untuk membunyikan klakson mereka. Entah bagaimana bunyinya, penikmat ”om telolet om” sudah cukup senang, saat permintaan mereka dipenuhi oleh sopir kendaraan.

Yang juga tidak kalah viral dan terkenalnya, adalah cerita seorang ibu asal Kabupaten Kudus, yang harus membayar jutaan rupiah untuk hidangan yang dia makan di sebuah rumah makan di Pantai Bandengan, Jepara. Tulisan sang ibu di akun media sosial (medsos) Facebook miliknya itu, lantas di-share begitu banyak orang, sehingga menarik perhatian banyak pengguna medsos. Semua ramai-ramai meng-share akun tersebut, sehingga beritanya juga menjadi fenomenal.

Ada satu persamaan dari kedua peristiwa itu. Di mana kedua-duanya memakai jempol saat beraksi. Kalau dulunya, fenomena ”om telolet om” itu menggunakan kardus yang ditulis untuk diperlihatkan kepada sopir bus, sekarang ini orang-orang tinggal mengacungkan dua jempolnya, saat bus akan melintas. Dan sang sopir segera paham apa yang harus dilakukan. Kedua jempol pencari ”suaka telolet” inilah, yang menjadi tanda bagi sopir, untuk membunyikan klaksonnya.

Sementara seorang ibu dari Kudus itu, juga menggunakan jempolnya, untuk menulis kisahnya saat jajan di Pantai Bandengan. Termasuk menuliskan kekecewaannya dengan harga dari penjual ikan bakar di Bandengan, yang dianggap seenaknya saja menetapkan harga makanan dan minuman. Dari jempol sang ibu itulah, cerita tersebut menjadi viral kemana-mana.

Namun, ada yang berbeda dari penggunaan jempol-jempol itu. Kalau jempol telolet biasanya pasti berbuah suara klakson yang berirama dan membuat riang pemintanya, namun jempol sang ibu yang kecewa itu menghasilkan beberapa hal yang terbilang luar biasa. Contohnya adalah warung yang di Bandengan yang dinilai menerapkan harga tidak wajar itu, lantas menarik perhatian banyak orang. Meski situasinya juga tetap sepi, layaknya sebelum peristiwa itu terjadi. Karena dari beberapa obrolan banyak orang di Bandengan, warung itu memang dikenal suka menerapkan harga yang tidak wajar bagi pengunjungnya. Sehingga banyak yang tidak kembali lagi makan di sana.

Bukan itu saja. Pihak-pihak yang terkait, seperti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Jepara segera mengambil tindakan. Dinas memanggil pengelola pantai dan pemilik warung, untuk diklarifikasi. Bahkan, pemilik warung juga sudah diberi peringatan untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi, kalau tidak maka dinas siap untuk memberi sanksi tegas berupa penutupan izin jualan. Ditambah lagi, warung harus menyediakan daftar menu makanan, sehingga pembeli dapat memilih menu mana yang mereka inginkan.

Ditambah lagi, pengelola Pantai Bandengan juga memasang spanduk atau papan pengumuman, yang isinya imbauan kepada pengunjung, untuk pintar-pintar memilih warung makan di sana. Juga pengumuman bahwa semua warung sudah dilengkapi dengan daftar harga, yang akan memudahkan pembeli. Spanduk itu dipasang di beberapa titik strategis di Bandengan.

Sebuah hasil yang sama-sama bagus tentunya. Baik yang jempol telolet maupun jempol si ibu tadi. Kedua jempol ini memberikan sebuah pelajaran bahwa, seharusnya setiap jempol memang digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Sesuatu yang bisa memberikan manfaat lebih kepada semua orang. Jempol telolet, bisa membawa kebahagian bukan saja kepada pemilik jempolnya semata, namun kepada semua yang mendengar klakson bus yang melintas. Sedangkan jempolnya si ibu tadi, bisa membawa dampak perbaikan terhadap layanan masyarakat di lokasi umum atau publik. Perbaikan ini diharapkan bukan hanya dalam skala kecil saja, melainkan juga semua tempat wisata di Kabupaten Jepara, melakukan tindakan melindungi pengunjung yang datang ke tempatnya. Sehingga pengunjung akan aman, nyaman, dan pulang dengan kondisi tersenyum. Dan suatu saat bisa kembali lagi ke sana.

Bijaksana menggunakan jempol, sudah begitu sering disampaikan. Terutama di era media sosial seperti sekarang ini. Sudah banyak contoh bagaimana repotnya aparat penegak hukum, yang harus berurusan dengan jempol. Aksi saling lapor, dilakukan karena hasil dari jempol pengguna medsos, yang dengan santainya menuliskan sesuatu yang berkaitan dengan suku, agama, dan ras (SARA) yang dianggap melecehkan atau menghina orang lain, menge-share berita-berita yang lebih banyak hoax-nya daripada kebenarannya, dan penggunaan jempol yang tidak bijaksana lainnya. Seolah lupa bahwa di Indonesia ada yang namanya Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE), yang mengatur semua hal yang berkaitan dengan apa yang dilakukan seseorang di dunia maya. Belum lagi ditambah dengan edaran kapolri mengenai hate speech, sepatutnya menjadikan diri kita waspada jika melakukan sesuatu dengan media sosial kita.

Saat seseorang menuliskan sesuatu di media sosial, pasti terlihat ”gagah” karena sudah bisa menuliskannya. Apalagi jika mendapatkan pernyataan suka atau like dari pengikutnya, semakin membuat busung ini dada. Terlebih, jika komentar yang masuk juga tidak terkira banyak. Semakin bangga kita. Karena memang itulah yang diharapkan dari kebanyakan pemilik akun medsos. Hanya saja, saat tulisan itu berimplimentasi dengan hukum, coba lihat bagaimana lemah lunglainya sang pemilik akun, menangis-nangis meminta maaf, dan memohon supaya tidak diproses hukum. Semua menjadi lemah di hadapan penyidik hukum. Dan kasus-kasus seperti itu, banyak terjadi.

Barangkali semua orang berpikir bahwa akun-akun yang dimilikinya adalah akun pribadi yang kemudian menjadi hak mereka sepenuhnya. Namun yang harus diingat adalah, akun tersebut terkadang menjadi akun publik yang bisa dilihat banyak orang. Yang kemudian bebas dibaca banyak orang, dan kalau suka langsung di-share ke banyak orang juga. Sehingga, ranah akun menjadi ranah umum sekarang ini.

Punya akun Facebook, kan? Saat Anda membukanya setiap hari, coba baca apa yang ditulis Facebook dalam kolom timeline-nya. Di sana hanya ada tulisan ”apa yang anda pikirkan sekarang”. Bukan ”apa yang anda ingin tuliskan sekarang”. Seolah Facebook sudah membatasi bahwa, apa yang anda pikirkan, harusnya dipikirkan terlebih dahulu jika ingin menuliskannya. Karena terkadang apa yang dipikirkan, hanya akan mengendap menjadi pemikiran tanpa sempat tertuang. Pikirkan terlebih dahulu apakah pemikiran Anda itu, memang sudah layak untuk dituliskan kemudian. Ingat, Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan lainnya itu, sama sekali tidak ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah Anda tuliskan. Sehingga, tanggung jawab ada pada jempol Anda sendiri.

Jadi, alangkah baiknya kalau kemudian kita berjanji kepada jempol kita sendiri, untuk lebih bijaksana menggunakannya. Dalam dunia medsos, berjanjilah pada jempol, untuk tidak menyebarkan berita hoax, fitnah, apalagi provokasi. Biarkan jempol hanya menyebarkan virus telolet, yang sanggup bikin orang lain tersenyum. (*)

Comments
Loading...