Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bawa Misi Perdamaian, Anggota Banser Ini Kayuh Sepeda Bersama Istri ke Mesir

 Hakam Mabruri (34) bersama istrinya, Rofingatul Islamiah (34) foto bersama putri Gus Mus Rabiatul Bisyriah dan suaminya Wahyu Salvana di depan Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)
Hakam Mabruri dan istrinya Rofingatul Islamiah foto bersama putri Gus Mus Rabiatul Bisyriah dan suaminya Wahyu Salvana di depan Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin Rembang. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Hakam Mabruri (34) bersama istrinya, Rofingatul Islamiah (34), melakukan perjalanan dengan misi perdamaian ke Mesir menggunakan sepeda tandem. Pria yang tercatat sebagai anggota Banser asal Desa Gading, Kecamatan Bulu Lawang, Kabupaten Malang ini, memulai perjalannya dari Malang sejak Sabtu (17/12/2016).

Pada Sabtu (24/12/2016) siang, keduanya sampai di Kabupaten Rembang. Ketika di Kota Garam ini, keduanya singgah terlebih dahulu di kediaman KH Musthofa Bisri atau Gus Mus, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin.

Keduanya disambut putri Gus Mus Rabiatul Bisyriah dan suaminya Wahyu Salvana. Keduanya juga dijamu secara sederhana sebelum melanjutkan perjalanan kembali. Dalam kesempatan itu, mereka juga mendapatkan hadiah dari putri Gus Mus berupa buku berjudul “Ibu Kekasihku”. Buku tersebut merupakan kumpulan puisi yang ditulis putra-putri Gus Mus, selepas ibu mereka Hj Siti Fatma meninggal dunia.

Menantu Gus Mus Wahyu Salvana mengapresiasi terhadap keduanya, apalagi perjalanan tersebut membawa misi perdamaian. “Saya bangga dan salut pada mereka. Sebab, mereka akan berjuang untuk bisa membawa misi perdamaian umat beragama,” ujarnya.

Dirinya berharap, apa yang dilakukan oleh pasutri tersebut bisa menjadi contoh bagi para pemuda atau warga lain. “Mudah-mudahan nantinya bisa berhasil, dan bisa menjadikan contoh bagi para pemuda, khususnya warga Nahdliyin, Ansor. Apalagi mereka merupakan anggota Ansor Malang, Jawa Timur,” imbuhnya.

Sementara itu, Hakam menyampaikan, jika dirinya dan istri sengaja sowan dan silaturahmi dengan Gus Mus, karena menurutnya, Gus Mus merupakan salah satu tokoh NU yang mempunyai sikap arif, bijak dan toleransi tinggi terhadap umat beragama.

“Gus Mus itu orangnya sangat arif, bijak dan toleran. Selain itu, NU juga sangat terkenal dengan sikap toleransi yang sangat tinggi terhadap semua agama. Terlebih perjalanan ini juga ada misinya untuk kerukunan umat beragama,” kata Hakam.

Lebih lanjut dirinya menyatakan, perjalanan yang diberi nama “Holly Journey from Indonesia to Egypt, Faith in Peace” itu dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap konflik atas nama agama yang terus terjadi.

Perjalanan dengan sepeda itu sebenarnya perpaduan antara hobi dan keprihatinan terhadap kondisi dunia. Hakam memiliki kegemaran berpetualang, dan saat ini ia mengaku merasa prihatin dengan konflik yang terus terjadi di berbagai belahan dunia.

“Islam adalah Rahmatan Lil Alamin. Jangan pernah berperang atas nama perang suci. Allahu Akbar itu bukan berarti ayo serbu. Tapi Allahu Akbar itu ajakan untuk berdamai. Bukan hanya untuk Islam, non Islam akan kami ajak berdamai dengan kalimat itu,” jelas Hakam.

Dengan misi perdamaian dunia melalui perjalanan sucinya itu, Hakam berharap negara – negara yang saat ini tengah berkonflik atas nama agama bisa menyadari bahwa agama itu membawa perdamaian, bukan peperangan. “Minimal mereka tahu bahwa Islam itu bukan menyerang, Islam itu bersahabat, berdamai, bersaudara, melindungi,” kata Hakam.

Dalam perjalanan sepanjang sekitar 17.000 kilometer itu, Hakam bersama istrinya akan mengunjungi tempat suci tiap-tiap agama di negara yang disinggahi. Untuk Indonesia, ia akan mengunjungi Makam Wali Songo sebagai simbol peradaban Islam dan jejak-jejak penyebaran Islam di Indonesia, dan juga tokoh-tokoh agama, seperti halnya Gus Mus.

Usai dari Rembang ini, dirinya akan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. Setelah itu, lalu melalui jalur laut menuju Bangka, Palembang, Jambi, Pekanbaru, Medan. Keduanya kemudian akan menyeberangi lautan menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah itu, perjalanan akan dilanjutkan ke Myanmar.

Di negara itu, Hakam yang pernah bersepeda keliling dunia pada 2012 ingin menyampaikan toleransi umat beragama, khususnya Islam dan Buddha.  Jika tidak memungkinkan memasuki Myanmar, ia akan menyampaikan pesan perdamaian untuk Myanmar dari Kuala Lumpur.

Hakam dan Rofingatul juga akan mengunjungi Kathmandu di Nepal dan Taman Lumbini yang menjadi tempat kelahiran Sidharta Gautama. Dilanjutkan ke Khushinagar, India, yang menjadi tempat moksa Sidharta.

Rute selanjutnya bergeser ke Agra dan Tajmahal. Hakam juga berencana ke Vrindavan untuk melihat jejak kanak-kanak Krisna dan melihat tempat kelahirannya di Mathura.

Masih di India, Hakam bersama istrinya akan mengayuh sepeda tandemnya ke Yamunanagar dan Kurukshetra yang menjadi lokasi perang antara kebaikan (Pandawa) dan keburukan (Kurawa) dalam perang Mahabharata. Setelah itu, perjalanan akan dilanjutkan ke New Delhi sebagai tempat singgah sementara mereka.

Dari sana mereka menempuh jalur udara ke Jeddah, Arab Saudi. Di Arab Saudi, ia berencana berkunjung ke Makkah dan Madinah. Setelah itu, ia akan menempuh perjalanan ke Amman, ibu kota Jordania. Di Jordania, ia akan ziarah ke Danau Galilea, tempat yang diyakini munculnya Isa Al Masih untuk menemui umatnya.

Kemudian perjalanan akan memasuki Jerusalem dan Masjid Al Aqsa. Setelah dari Jerusalem, ia akan kembali ke Jordania untuk mengunjungi Wadi Musa dan berziarah ke Makan Nabi Harun. Hakam dan istrinya ingin ke Petra untuk menyaksikan peradaban yang sempat berjaya dan hilang begitu saja dan ke Teluk Aqabah untuk memasuki Mesir.

Di Mesir, suami-istri tersebut akan berkunjung ke Gunung Sinai dan mengunjungi masjid dan gereja di puncak gunung tersebut. Perjalanan terakhir dilakukan dengan menyusuri Terusan Suez, lalu ke Kairo untuk melihat tempat peninggalan Raja Firaun dan Museum Mesir.

Selama berada di tempat-tempat suci dari berbagai agama itu, ia berencana akan menyebarkan brosur berisi pesan perdamaian.  Perjalanan itu akan ditempuh selama enam bulan ke depan. Jika memungkinkan, perjalanan menggunakan sepeda tandem itu akan dilanjutkan ke Maroko, Spanyol, Portugal, Yunani, dan Turki.

Editor : Kholistiono 

Comments
Loading...