Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Toleransi Antaretnis yang Terjaga di Kota Tiongkok Kecil

SEJARAH KOTA TUA LASEM (4)

Tasyakuran di rumah Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) tokoh Tionghoa Lasem yang mengundang kiai dan beberapa warga setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)
Tasyakuran di rumah Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian) tokoh Tionghoa Lasem yang mengundang kiai dan beberapa warga setempat. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Percampuran budaya Jawa dan Cina di wilayah Lasem, Rembang, bukan sekadar yang tergambar dalam sepotong batik Lasem. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai toleransi antaretnis maupun agama sangat kental di kota yang dijuluki “Tiongkok Kecil” dan “Kota Santri” atau “Kota Pusaka”.

Toleransi antaretnis dan agama di Lasem ini sudah terjadi sejak dulu, dan hal itu masih terlihat hingga sekarang. Interaksi sosial yang harmonis antaretnis juga akan kita jumpai di wilayah ini. Bahkan, hubungan yang harmonis sejak dulu tersebut, seolah tak goyah dengan berbagai isu tentang SARA seperti yag terjadi di beberapa daerah lain.

KH. Zaim Ahmad atau Gus Zaim, salah satu tokoh agama yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem mengatakan, keberagaman dan keharmonisan di Lasem memiliki sejarah panjang. Sejak dulu, Lasem yang terdiri dari ragam etnis dan agama, masyarakatnya hidup rukun dan damai.

“Bahkan, dalam sejarahnya, sekitar tahun 1742, di Lasem ini ada namanya Perang Kuning. Yaitu perang melawan VOC. Di mana, antara pribumi, santri dan Cina saling bahu membahu untuk perang melawan VOC tersebut,” ujarnya.

Dalam perang tersebut dipimpin Adipati Tumenggung Widyaningrat (Oei Ing Kiat) yang merupakan tokoh etnis Cina,Panji Margono tokoh Jawa dan Kiai Ali Baedlowi dari tokoh kalangan santri atau pesantren. Dalam perang tersebut, akhirnya VOC terusir dari Lasem.

Selain itu, menurut dia dalam berkehidupan, masyarakat di Lasem selalu mengedepankan rasa. Sehingga setiap perasaan itu bisa disalurkan di dalam kehidupan sehari-hari.”Yang penting, dalam berkehidupan di Lasem itu mengedepankan rasa, setelah itu baru logika. Supaya kehidupan di sini bisa aman, rukun dan tentram,” tuturnya.

Bukti lain terkait toleransi juga terjadi di keluarga Sigit Witjaksono (Njo Tjoen Hian), pemilik usaha batik. Dalam keluarganya, katanya, terdapat beragam agama yang dipeluk. Dirinya, anaknya dan cucunya ada yang memeluk beda agama.

“Kami tidak memperdebatkan hal itu. Keluarga kami hidup rukun. Karyawan saya juga banyak yang tidak berlainan agama. Meskipun saya Konghucu, kalau tasyakuran kami juga mengundang kiai untuk memimpin doa. Dalam lingkungan kerja, karyawan juga saling menghormati,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...