Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Lawang Ombo di Lasem, Jejak Sejarah Peredaran Opium Zaman Belanda

SEJARAH KOTA TUA LASEM (3)

Lawang Ombo yang berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Lawang Ombo, pada zaman Belanda sekitar tahun 1700 an merupakan gudang candu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)
Lawang Ombo yang berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Lawang Ombo, pada zaman Belanda sekitar tahun 1700 an merupakan gudang candu. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Banyak bangunan peninggalan Tiongkok lama di Lasem, Kabupaten Rembang. Salah satunya adalah Lawang Ombo (esk rumah candu). Rumah itu menyimpan misteri sekaligus menjadi saksi sejarah perdagangan dan peredaran opium di Jawa oleh warga Tionghoa kala itu.

Lawang Ombo, berada di Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Letaknya hanya berjarak sekitar 100 meter dari Sungai Babagan. Di satu sudut ruangan terdapat semacam sumur berdiameter 70 sentimeter. Di dalamnya masih ada genangan air. Siapa sangka, sumur ini ternyata pernah menjadi jalur utama penyelundupan opium.

“Di dalam sumur ada terowongan yang menghubungkan ke laut. Terowongan itu cukup untuk jalur sampan kecil yang mengangkut opium,” ujar Gandor Sugiharto Santoso, Pengawas Tempat Ibadah Tri Darma kepada MuriaNewsCom, Kamis (15/12/2016).

Menurutnya, pada zaman itu, Sungai Babagan merupakan jalur utama perdagangan dari lepas pantai Rembang. Setelah rumah, tidak ada jalan selain sungai. Namun, kedatangan penjajah Belanda membuat tata ruang waktu tiu berubah. Belanda membuat dermaga di lepas Pantai Rembang, dan membuat jalan di depan Lawang Ombo.

Praktik penyelundupan opium kala itu cukup mudah. Sampan kecil dibawa masuk ke terowongan. Lalu ada orang bersiap di atas sumur dan mengangkuti opium dengan kayu satu per satu. Kala itu, banyak modus untuk menyelundupkan opium.

Lawang Ombo, katanya, dulunya dibangun oleh dua kakak beradik dari Tionghoa yaitu Tong Kay dan Tong Day. Tidak dapat secara pasti kapan bangunan tersebut berdiri. Namun, diperkirakan sekitar tahun 1700 an.

Oleh keduanya, bangunan tersebut dipergunakan sebagai gudang candu yang didatangkan dari China yang diselundupkan melalui sungai Lasem. Karena Sungai Lasem sangat penting sebagai transportasi serta masuknya barang-barang dari luar, maka pada saat itu Belanda sebagai pihak yang menguasai Lasem, menjaga ketat sungai tersebut.

Untuk mengelabui penjaga Belanda, orang-orang pekerja pribumi suruhan Tionghoa menggunakan kapal kecil dan memasukkan candu ke dalam peti mati untuk kemudian di selundupkan di lubang di bibir sungai dekat dengan Lawang Ombo yang terintegrasi dengan lubang yang ada di Bangunan Lawang Ombo.

Lawang ombo sangat penting pada waktu itu, karena dari sinilah candu di simpan untuk selanjutnya di sebarkan ke daerah selatan pulau Jawa seperti Magelang, Pati, Cirebon dan lain sebagainya.

“Sebenarnya ketika itu Belanda melakukan pengawasan ketat terhadap peredaran opium. Namun yang mengherankan, kenapa seolah tempat tersebut aman sebagai gudang candu. Bisa saja, ketika itu Belanda memanfaatkan hal ini, sebagai upaya untuk mengadu domba antara pribumi dan China. Maka ada semacam kelonggaran,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Comments
Loading...