Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

8 Pertamini di Kudus Diawasi Pemkab Gara-gara Berisiko

 Pengguna jalan membeli BBM dari pertamini di Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

Pengguna jalan membeli BBM dari pertamini di Desa Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus, Sabtu. (MuriaNewsCom/Faisol Hadi)

MuriaNewsCom, Kudus – Disdagsar Kudus mengawasi delapan pertamini atau SPBU mini, beberapa waktu terakhir. Pemkab menganggap pertamini belum mempunyai alat standar operasional pengamanan.

Kabid Perdagangan Disdagsar Kudus Sofyan Dhuhri, mengatakan, pihaknya sedang mengawasi pertamini secara intensif. Sofyan mencatat ada delapan pertamini yang diawasi. Di antaranya, pertamini yang ada di Desa Lau dan Piji, Kecamatan Dawe. Ada juga pertamini di Desa Mlati Kidul dan Bhurikan, Kecamatan Kota. Lainnya, pertamini di Desa Besito dan Gondosari, Kecamatan Gebog; Desa Gondang Manis, Kecamatan Bae; dan Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan.

“Para penjual membeli alatnya sendiri dan ada sales yang menjualnya. Kami memberikan imbauan supaya berhati-hati menjualnya. Karena ini menyangkut bahan mudah terbakar, dan alat yang digunakan tidak berstandar. Seperti yang ada di pom bensin,” kata Sofyan kepada MuriaNewsCom di Kudus, Sabtu (10/12/2016).

Dari pendataannya, Disdagsar mengetahui jika bahan bakar minyak (BBM) pertamini tidak didrop dari Pertamina. Pertamini membeli BBM dari Pertamina dengan cara jerikenan dalam jumlah tertentu. Kemudian, pengelola pertamini memasukkan BBM ke drum yang telah dilengkapi pompa. Alat pompa itu berguna untuk menyedot BBM biar bisa keluar melalui selang atau nozzle. “Jadi mirip dengan penjual eceran, hanya saja ini menggunakan alat sehingga terlihat seperti SPBU pada umumnya,” ujarnya.

Pihaknya juga melakukan pengawasan alat penghitung pertamini. Sebab, pemkab belum mengetahui apakah alat sudah menjalani proses tera atau belum. Padahal alat itu untuk menentukan apakah hitungan satu liternya sudah tepat, atau tidak.

Pemkab juga menyayangkan jika pertamini belum mengantongi izin usaha. Berdasarkan informasi, Pertamini membeli alat beroperasi, satu setnya Rp 16 juta hingga Rp 20 juta. Pertamini menjual pertalite Rp 7.500 per liter, dan pertamax Rp 9.000 per liter.

Menurut Sofyan, keberadaan pertamini di tengah permukiman juga amat berisiko. Alasannya, alat penjualan yang dipakai tidak sesuai standarnya.

Editor : Akrom Hazami

Comments
Loading...