Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Awas, Ini Bukan soal Telolet Biasa

Siti Merie merqi194@yahoo.com
Siti Merie [email protected]

SORE hari di kawasan Ngabul, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, bukan lagi menjadi sore yang biasa. Saya bilang, ini adalah ”piknik” baru bagi mereka-mereka yang menginginkan suasana sore yang berbeda.

Yang paling menyenangkan dari sore itu adalah anak-anak yang riuh rendah di pinggir jalan, membawa tulisan, serta berteriak-teriak lantang saat bus-bus malam lewat di depan mereka. Tulisannya biasanya begini ”telolet, om, telolet”. Sambil dibentangkan ke bus yang sedang melaju ke arah mereka. Dan kalau sang sopir sadar, maka mereka akan membunyikan klakson busnya, dan sambutan atau teriakan meriah akan terdengar. Barangkali teriakan gembira itu bisa melebihi saat Tim Nasional (Timnas) Sepak Bola Indonesia menjadi juara.

Meski sebenarnya fenomena telolet, yakni meminta sopir bus membunyikan klaksonnya, bukanlah fenomena baru, namun kehadiran anak-anak yang begitu antusias itu, bisa menjadi hiburan tersendiri. Rasanya tidak terjadi di dunia ini, anak-anak yang rela beramai-ramai berdiri di pinggir jalan, hanya untuk mendengarkan klakson bus. Bahkan bisa membuat macet jalanan di sana. Karena sore hari, bus-bus asal Jepara dengan tujuan mayoritas Jakarta itu, harus rela ”diintimidasi” ratusan anak-anak itu, untuk membunyikan klaksonnya.

Bahkan, saya pikir apa yang dilakukan anak-anak, malah sekarang ditambah orang dewasa ikut-ikutan menanti di pinggir jalan untuk hal yang sama, bisa menimbulkan ”teror” psikologis tersendiri bagi sopir bus. Bayangkan saja, yang diminta adalah suara klaksonnya. Lah, kalau kebetulan suaranya itu bagus, tidak ada persoalan. Sopir bus juga akan gembira melihat cerianya wajah anak-anak itu ketika sudah bisa mendengar suara klakson. Persoalannya, kalau kebetulan suara klakson busnya tidak begitu ”indah”, maka bisa saja sopir bus menerima teriakan ”huuu” dari pendengar setianya itu. Lah, apa tidak ”teror” itu namanya. Bukan saja sopir, tapi nama bus yang terpampang di bodi, juga akan jadi ingatan tersendiri. Apalagi kalau sopir busnya lewat begitu saja tanpa membunyikan klakson, teriakan anak-anak yang kecewa itu bahkan lebih kencang lagi.

Saya tidak pernah paham, apa yang membuat anak-anak itu begitu gembira kalau sudah mendengar klakson bus. Rasa apa yang kemudian dialami anak-anak itu, saat sopir membunyikan klaksonnya dan membuat mereka berteriak. Tapi, bagi orang-orang dewasa seperti saya, melihat anak-anak yang antuasis berdiri di pinggir jalan beramai-ramai itu, juga menimbulkan perasaan yang gembira dan menyenangkan. Maaf kalau saya katakan, justru hiburannya adalah anak-anak itu sendiri. Bukan klakson busnya. Begitu menyegarkan melihat anak-anak itu tertawa riang, hanya dengan klakson bus. Kalau dulu mungkin keriangan anak-anak adalah saat bisa mengalahkan lawannya pada permainan gundu, atau sodamanda, atau petak umpet. Namun sekarang, soal sepele seperti suara klakson saja, bisa membuat anak-anak itu riang gembira.

Jika dulu, fenomena telolet itu sendiri memang marak di sepanjang jalur pantura barat. Pelakunya para anak baru gede (ABG), yang lantas mencegat bus-bus yang lewat, sambil merekam (memvideokan) bus itu, untuk kemudian diunggah di Youtube. Bahkan, mereka rela mengejar bus-bus tersebut untuk bisa mendapatkan gambar dan suara telolet yang bagus, guna unggahan nantinya di Youtube.

Layaknya fenomena, pasang surut selalu ada. Namun kini, fenomena baru itu muncul di Jepara, dengan ”pelakunya” adalah anak-anak. Meski juga sudah bergeser di mana orang-orang dewasa, ikut-ikutan turut serta. Sudah banyak unggahan di media sosial, bagaimana riuh rendahnya anak-anak itu saat menyegat bus dan meminta ”telolet, om”.

Hadir juga dari Kabupaten Jepara, berita yang berkaitan dengan anak-anak. Kemarin, beredar secara viral sekelompok anak-anak yang memeragakan adegan salat, namun dalam posisi yang antimainstream. Bayangkan saja, imam salat itu, yang kemudian juga membuka bajunya, berdiri di atas dua motor yang disandingkan. Lantas di belakangnya, empat orang lainnya seolah-olah bergaya sebagai makmum. Foto ini diberi caption atau keterangan ”wis gaul durung, gan”. Atau dalam Bahasa Indonesia ”sudah gaul belum, gan”.

Jelas saja foto tersebut mengundang kecaman dari netizen. Hampir semuanya menghujat aksi tersebut. Disebut bahwa aksi itu melecehkan salat. Sesuatu yang tidak pantas dilakukan, apalagi oleh mereka yang masih anak-anak. Belum kelar masalah itu, muncul juga sebuah foto yang memperlihatkan seorang anak perempuan baru gede, memakai sarung, dengan kedua tangan bersedekap, dengan dua orang anak laki-laki di belakangnya, melakukan adegan yang sama. Seolah-olah, foto itu memperlihatkan orang salat, dengan imam seorang perempuan, dengan dua laki-laki sebagai makmum. Dan lagi-lagi, kecaman didapatkan di media sosial (medsos).

Saya yakin seyakin-yakinnya, anak-anak itu tidak bermaksud untuk melecehakan salat, yang bagi seorang muslim, dilaksanakan lima kali dalam sehari. Mereka hanya anak baru gede, yang ingin pamer sesuatu yang berbeda saja. Atau kalau disebut supaya bisa bergaya dan dikomeni banyak orang. Karena sebagaimana sifat sebuah medsos, semakin banyak yang suka, semakin banyak yang komen, akan membuat semakin terkenal pemilik akun medsos. Inilah yang terjadi pada anak-anak ini. Mereka memilih melakukan sesuatu, yang dipandang tidak pernah dilakukan orang lain, tanpa berpikir apa yang akan terjadi. Yang sayangnya, mereka memilih gaya pada sebuah hal yang kemudian disakralkan. Mereka salah pilih gaya.

Kejadian-kejadian itu, ibarat sebuah telolet yang harus diperhatikan orang tua. Fenomena itu menjadikan telolet atau alarm, bagi siapa saja yang memiliki anak-anak di era media sosial begitu merajai dan menggila, dalam menentukan opini atau pendapat seseorang. Orang tua harusnya tersadar karena bunyi telolet itu sudah sedemikian kencang. Pasalnya, apa yang dilakukan anak-anak di media sosial, seolah sudah tidak terkontrol. Pemegang kendali seluruhnya, adalah jari dari anak-anak tersebut, yang dibekali peralatan canggih bernama telepon seluler (ponsel).

Telolet itu akan semakin berbunyi kencang, manakala kejadian yang menimpa anak-anak itu bahkan menjurus ke arah yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Contohnya saja adalah terlibat dalam tindakan kriminal. Banyak kasus di mana kejahatan seksual saat ini juga dilakukan anak-anak. Baik korban maupun pelakunya. Mereka ini seolah sah-sah saja berkenalan satu sama lain, saling suka, kemudian terjerumus kepada perbuatan asusila. Di mana ujung-ujungnya juga kerap berupa tindakan kriminal.

Anak-anak itu, pasti belum tahu apa itu pasal, apa itu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), ataupun penjara sekalian. Bahwa segala bentuk kehidupan kita di negeri ini, terjerat pada aturan atau undang-undang yang harus ditaati. Tapi sekali lagi, pengetahuan mereka akan aturan itu, mungkin tidak diketahui sama sekali.

Contoh nyatanya adalah saat anak-anak yang dituduh menistakan salat tadi, didatangi polisi satu persatu ke rumahnya, dan dibawa untuk dimintai keterangan. Aksi gaya imam di atas motor yang dengan gagah dilakukan sebelumnya, berganti dengan aksi menundukkan kepala dan menangis, karena takut saat mengetahui bahwa aksi itu melanggar undang-undang. Ketika dibacakan soal aturan, mereka sama sekali tidak paham. Yang ada di pikiran, saat upload gaya itu, mereka sudah gaul. Gengsi terpenuhi, dan bisa menjadi terkenal. Atau bahkan bangga bilang bahwa ini adalah akun medsos mereka sendiri, jadi orang lain tidak usah ikut-ikutan. Sesuatu yang jamak kita dengar pada jaman sekarang ini.

Apa yang terjadi ini, semua dikembalikan ke rumah masing-masing. Bagaimana hubungan orang tua dan anak dibangun, akan sangat menentukan bagaimana pola berperilaku orang tua dengan anaknya. Rumah adalah tempat belajar pertama akan semua hal. Dan orang tua, adalah orang tua yang harus bertindak sebagaimana mestinya orang tua. Bagaimana mendidik anak-anak, adalah sebuah kewajiban bagi orang tua yang harus dipenuhi sejak awal. Karena anak-anakmu, adalah cerminan bagaimana dirimu sebagai orang tua.

Wahai bapak dan ibu, sudah kau pelukkah anakmu hari ini? (*)

Ruangan komen telah ditutup.