Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

PWI Rembang dan FWR Sayangkan Sikap Tak Kooperatif Salah Satu Wartawan Korban Kekerasan Karyawan PLTU

 Rapat yang dilakukan PWI Rembang dan FWR terkait kasus kekerasan yang menimpa wartawan Rembang. Rapat ini juga dihadiri Sekretaris PWI Jateng dan Tim Advokasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Rapat yang dilakukan PWI Rembang dan FWR terkait kasus kekerasan yang menimpa wartawan Rembang. Rapat ini juga dihadiri Sekretaris PWI Jateng dan Tim Advokasi (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

 

MuriaNewsCom, Rembang – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Rembang dan Forum Wartawan Rembang (FWR) menyanyangkan sikap tak kooperatif salah satu wartawan media cetak yang menjadi korban kekerasan dan intimidasi dari oknum karyawan PLTU Rembang.

Sebab, wartawan yang dimaksud tidak bersedia memberikan keterangan di Polres Rembang. Padahal, beberapa hari lalu, kasus kekerasan dan intimidasi tersebut sudah dilaporkan ke Polres Rembang, dan pihak Polres juga sudah siap untuk memproses kasus.

Pelaporan oknum karyawan PLTU ke Polres Rembang oleh sejumlah wartawan ini, bermula ketika adanya dugaan kekerasan dan intimidasi terhadap lima jurnalis ketika melakukan peliputan korban kecelakaan kerja PLTU yang dibawa ke RSUD dr Soetrasno Rembang, Kamis (18/8/2016).

Lima wartawan yang mengalami mendapatkan intimidasi tersebut adalah Sarman Wibowo dari Semarang TV, Djamal Abdul Garham dari Suara Merdeka, Diky dari Radio Pop FM, Heru Budi Santoso dari Radio CBFM, serta Wisnu dari Radar Kudus.

Ketua PWI Rembang Djamal Abdul Garham mengatakan, sangat menyanyangkan adanya sikap tak kooperatif dari salah satu wartawan yang jadi korban kekerasan tersebut. “Yang bersangkutan ingkar janji, dan mengirim SMS tidak bisa memberikan keterangan ke Polres. Bahkan aksi solidaritas yang lakukan rekan-rekan wartawan se eks-Karesidenan Pati juga tidak dimuat. Padahal, aksi ini adalah sebagai bentuk dukungan, baik secara moril maupun hukum,” katanya.

Terkait hal ini, pihaknya bersama FWR menggelar rapat tertutup untuk mengambil sikap yang dilakukan salah satu wartawan korban kekerasan tersebut. Poin dari hasil rapat tersebut, di antaranya, PWI Rembang maupun FWR tidak akan memberikan bantuan hukum dan moril kepada yang bersangkutan.

Kemudian, pihaknya juga akan menggelar aksi keprihatinan di depan kantor biro Rembang salah satu media tempat wartawan yang bersangkutan bertugas dan juga menutup informasi kepada yang bersangkutan. “Kita membuat keputusan ini bukan ditujukan untuk perseorangan. Ini adalah bentuk solidaritas sesame pekerja pers,” imbuhnya.

Menurutnya, adanya kasus kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan, bukan kali pertama di Rembang. Bahkan, sebagian banyak kasus tersebut menimpa salah satu wartawan yang dimaksud. Sebagai bentuk solidaritas, katanya, pihaknya selalu mengawal dan mendukung mencarikan solusi terkait kasus yang dialami tersebut.

Editor : Kholistiono
 

Comments
Loading...