Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Keresahan Buruh Rokok

akrom e
Akrom Hazami red_abc_cba@yahoo.com

BEBERAPA waktu terakhir, buruh pabrik rokok diam-diam mulai galau, resah, dan harap-harap cemas. Mengemukanya wacana harga rokok Rp 50 ribu per bungkus, cukup menyita perhatian.  Mereka khawatir akan ancaman keberlangsungan pekerjaannya, nanti.

Meski harus diakui, tidak hanya buruh pabrik rokok saja yang merasakan hal tersebut. Ada pihak lain yang tak kalah galaunya. Sebut saja, petani tembakau dan pengusaha pabrik rokok itu sendiri.  Merekalah para pelaku industri yang menggantungkan hidupnya 100 persen dari perputaran produksi rokok. Dan diam-diam, wacana itu menjadi teror di momentum Hari Kemerdekaan RI ini.

Wacana tersebut merupakan hasil studi Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Masyarakat Universitas  Indonesia, Hasbullah Thabrany.  Usulan kenaikan harga rokok diketahui guna mengurangi jumlah perokok aktif di Indonesia.

Kenaikan  cukai rokok pasti diikuti kenaikan harga rokok. Sedikit mengungkap hasil stud, bahwa kemungkinan perokok akan berhenti jika harganya dinaikkan dua kali lipat dari harga normal. Hasilnya adalah, sekitar 80 persen bukan perokok setuju jika harga rokok dinaikkan.

Dari balik derap kemeriahan lomba Agustusan, masyarakat tak mampu menyembunyikan kegalauannya. Mereka pun mengemukakan sikapnya atas wacana itu. Kendati di kalangan warga, tentu ada beragam alasan yang menyatakan pro dan kontra atas wacana tersebut.

Bagi yang mendukung, beberapa alasan mereka kemukakan. Seperti faktor membaiknya kesehatan masyarakat, meningkatnya kesejahteraan keluarga, dan lainnya. Itu tak jauh beda dari pendapat YLKI. Dalam siaran persnya, YLKI mendorong harga rokok jadi mahal. Karena justru bermanfaat untuk masyarakat dan negara. Di antaranya, menurunkan tingkat konsumsi rokok di rumah tangga miskin.  Sekitar 70 persen pengkonsumsi rokok justru menjerat rumah tangga miskin.

Data BPS setiap tahunnya menujukkan bahwa pemicu kemiskinan di rumah tangga miskin adalah beras dan rokok. Dengan harga rokok mahal, ketergantungan mereka terhadap rokok pun akan turun. YLKI juga berpendapat, menurunnya konsumsi rokok di rumah tangga miskin akan berefek positif terhadap kesejahteraan dan kesehatan mereka. Bajet untuk membeli rokok langsung bisa dikonversi untuk membeli bahan pangan. Selain berefek negatif, rokok tidak mempunyai kandungan kalori sama sekali.

Masih kata YLKI, bagi negara, harga rokok mahal akan meningkatkan pendapatan cukai, yang bisa meningkat 100% dari sekarang. Harga rokok mahal selain berfungsi untuk memproteksi rumah tangga miskin, juga mengatrol pendapatan negara dari sisi cukai. Apalagi saat ini cukai dan harga rokok di Indonesia tergolong terendah di dunia.

Kesimpulan YLKI, sudah seharusnya rokok dijual mahal, sebagai instrumen pembatasan pengendalian. Di negara maju harga rokok lebih dari Rp 100 ribu. Harga rokok mahal tidak akan membuat pabrik rokok bangkrut. Pabrik akan melakukan mekanisasi, mengganti buruh dengan mesin.

Lantas, bagi mereka yang kontra, juga mempunyai alasan yang tak kalah logisnya. Mereka beralasan, kenaikan harga rokok akan membuat perokok kesulitan untuk membeli. Nilai Rp 50 ribu, bukanlah nilai murah.  Apalagi, kenaikan harga juga akan berakibat pada penurunan pendapatan penjual rokok. Mengingat, pembeli rokok didominasi kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Ujung mata rantainya adalah kekhawatiran buruh rokok. Mereka ujung tombak produksi rokok. Kenaikan harga rokok akan berpeluang pada menurunnya tingkat pendapatan pabrik rokok.  Mereka khawatir imbasnya adalah kehilangan lapangan pekerjaan.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengungkapkan penolakannya. Jika tarif cukai rokok diberlakukan, maka akan ada sekitar 4,7 juta buruh rokok terancam pemutusan hubungan kerja (PHK). Serta ada 1,2 juta petani tembakau yang terancamjadi pengangguran.

Galau. Jelas. Itulah yang terjadi di kalangan buruh pabrik rokok. Di antaranya yang ada di Kudus. Sebagai wilayah dengan sebutan Kota Kretek, jelas akan ada dampak hebat yang terjadi bila wacana tersebut benar-benar terealisasi.

Data dari Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman (RTMM) Kudus menyebutkan, jumlah buruh rokok mencapai 62 ribu orang. Itu data yang mereka catat pada 2012. Para buruh rokok tersebar hampir di sembilan kecamatan di Kudus.  Baik itu, perusahaan rokok skala besar, atau menengah hingga kecil.

Kegalauan buruh pabrik rokok merupakan hal wajar. Karena itu terkait dengan urusan perut. Kekhawatiran buruh akan pabrik rokok tempatnya bekerja akan tutup, kian membayangi. Atau kemungkinan pula, adalah pengurangan karyawan. Mereka harus kerja apa jika nantinya pabrik tutup, atau mereka jadi korban PHK.

Secara umum, buruh sepakat  pertimbangan kesehatan menjadi prioritas. Namun faktor ketenagakerjaan hendaknya juga harus dipertimbangkan masak-masak pemerintah.  Jika sudah demikian, seyogyanya pemerintah bisa mencari solusi yang baik.

Menaikkan harga rokok, jelas bukan solusi cerdas saat ini. Karena akan berujung pada keterhimpitan perusahaan rokok. Dan imbasnya adalah buruh rokok.  Bukan tidak mungkin, buruh rokok akan jadi korban PHK .Jelas, itu akan menambah pengangguran. Bukankah saat ini, pemerintah belum mampu mengentaskan perihal pengangguran?

Itulah kenyataan yang ada sekarang. Selain itu pula, para buruh rokok bisa mulai melakukan wirausaha sejak dini. Pelan-pelan sambil mencari berbagai peluang. Biar tak lagi galau berkepanjangan. (*)

 

 

Comments
Loading...