Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Ini Tanggapan GM PLTU Rembang Terkait Insiden Kekerasan Terhadap Wartawan yang Dilakukan Karyawannya

 

 Audiensi perwakilan PLTU dengan sejumlah wartawan yang juga dihadiri Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, Dandim 0720/Rembang Letkol Inf Darmawan Setiady (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

Audiensi perwakilan PLTU dengan sejumlah wartawan yang juga dihadiri Kapolres Rembang AKBP Sugiarto, Dandim 0720/Rembang Letkol Inf Darmawan Setiady (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

 

 

MuriaNewsCom, Rembang – Puluhan wartawan yang tergabung dalam Ikatan Jurnalistisk Televisi Indonesia (IJTI) Kopda Muria Raya dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menggelar aksi damai di Kantor PLN Rembang. Hal ini sebagai bentuk solidaritas atas insiden kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oknum karyawan PLTU, ketika sejumlah wartawan melakukan liputan korban kecelakaan kerja  PLTU yang dibawa di RSUD dr Soetrasno Rembang beberapa hari lalu.

Terkait insiden tersebut, General Manajer PLTU Rembang Yudhi Bagaskara menyampaikan permohonan maaf dan pihaknya mengaku salah adanya insiden pengejaran terhadap wartawan dan intimidasi yang dilakukan oknum PLTU. “Ya, kami salah. Yang dilakukan karyawan PLTU tersebut atas dasar spontanitas saja dan bukan disengaja atau dikondisikan. Sebab saya juga merasa prihatin kepada keempat korban itu,” ujarnya.

Dalam hal ini, pihaknya juga menyerahkan proses hukum lebih lanjut kepada pihak Polres. “Saya akan menyerahkan sepenuhnya ke polisi. Dan saya juga tidak akan mengintervensi pemeriksaan polisi atas kasus intimidasi yang dilakukan oleh oknum PLTU,” imbuhnya.

Lebih lanjut dirinya juga menyampaikan kronologi insiden kecelakaan kerja yang menimpa empat karyawannya. “Asal mulanya, korban mengkroscek alat pipa uap, dan ketika itu terjadi kebocoran uap. Sehingga mereka terkena semburan uap panas yang bercampur dengan air panas dari high pressure heater (HPH) di unit 20 lantai atas. Ibarat kata, seperti radiator mobil saat masih panas dibuka tutupnya, dan air radiator itu muntah atau muncrat hingga menyiram tubuh,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu karyawan yang diduga menjadi provokator untuk melakukan pengejaran dan pengeroyokan terhadap wartawan, dalam kesempatan itu menampik jika dirinya yang menjadi provokator.

“Saya justru malah kaget saat ketika nama saya disebut-sebut teman-teman wartawan ketika orasi. Padahal saya tidak memerintahkan karyawan atau oknum PLTU untuk mengeroyok wartawan saat meliput di RSU dr. Soetrasno beberapa hari lalu,” kata Partini, salah satu karyawan PLTU.

Menurutnya, dirinya hanya mengimbau kepada masyarakat atau wartwawan yang meliput untuk minggir sebentar. Sebab saat itu, keempat pasien kecelakaan kerja itu akan dinaikan ke mobil ambulans untuk dirujuk ke beberapa rumah sakit di luar Rembang.

Dirinya juga mengakui bahwa pengendalian keamanan atau scurity PLTU saat ada kejadian di RSUD dr. Soetrasno itu merupakan tugasnya. Sekali lagi, dirinya menolak jika aksi pengejaran terhadap wartawan bukan atas perintahnya.

“Saya kan wanita, masak saya memerintahkan pengeroyokan itu? Saya tidak ingin tindakan kekerasan atau pengejaran wartawan itu terjadi. Iya, saya akui bahwa saat itu ada pengejaran. Namun itu bukan perintah saya,” ungkapnya.

Editor : Kholistiono
 

Comments
Loading...