Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Desa Beketel Pati Uri-uri Kesenian Tayub

 Sejumlah ledek sedang menari dalam festival tayub di Desa Beketel, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

Sejumlah ledek sedang menari dalam festival tayub di Desa Beketel, Kecamatan Kayen, Pati. (MuriaNewsCom/Lismanto)

 

MuriaNewsCom, Pati – Tak banyak orang yang suka dengan kesenian tayub dan ketoprak. Di Pati, kesenian itu sedikit banyak digeser dengan budaya dangdut di hampir semua peringatan sedekah bumi-laut, hingga Lebaran.

Namun, berbeda dengan Desa Beketel, Kecamatan Kayen, Pati yang masih gencar mengadakan seni tayub dan ketoprak di berbagai kegiatan, seperti HUT Kemerdekaan RI. Kesenian tayub yang menyimpan “local genius” dinilai harus dilestarikan keberadaannya.

“Tari tayub sudah lama dilestarikan di Desa Beketel. Di sini, banyak warga mulai dari orang tua hingga pemuda yang suka seni tayub. Karena itu, kami selalu memberikan ruang untuk menjaga tradisi tayuban melalui berbagai agenda, seperti lomba 17 Agustusan,” kata Kades Beketel, Sutikno, Kamis (18/8/2016).

Dikatakan, tari tayub memiliki unsur keindahan dalam tradisi Jawa. Selain unsur keindahan, tari tayub diakui menjadi salah satu cara bagi warga untuk merekatkan hubungan sosial-kemasyarakatan.

Ditanya soal anggapan negatif, Sutikno berpendapat bila tari tayub sebetulnya jauh dari stigma negatif. Pasalnya, tradisi tayuban yang sebenarnya bebas dari alkohol dan jauh dari erotisme. “Bila ada unsur erotis dan mabuk-mabukan, itu oknum bukan bawaan tari tayub sendiri,” tuturnya.

Karena itu, Sutikno rencananya akan membuat komunitas sanggar desa untuk kesenian tayub di desanya. Hal itu diharapkan supaya ada ruang belajar kesenian tayub bagi masyarakat, terutama pemuda desa. Hasilnya, tari tayub bisa lestari di tengah gempuran budaya baru yang jauh dari muatan local genius.

Editor : Kholistiono

 

Comments
Loading...