Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Harga Lelang Gula Jatuh, APTRI Tuntut Pemerintah Tangani

393
Karyawan pabrik gula di Kudus melakukan pekerjaannya. (MuriaNewCom)
Karyawan pabrik gula di Kudus melakukan pekerjaannya. (MuriaNewCom)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) menuntut pemerintah terkait jatuhnya harga lelang gula, akhir-akhir ini.

Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin mengatakan, pihaknya menolak izin impor gula yang telah diberikan. Baik untuk gula konsumsi maupun gula rafinasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan gula nasional.

“Mendesak kepada Menteri Perdagangan meninjau kembali izin impor gula supaya disesuaikan dengan kebutuhan,” katanya di rilis persnya ke MuriaNewsCom, Jumat (12/8/2016).

Pihaknya juga mendesak kepada Menteri Perdagangan untuk melakukan pengawasan ketat distribusi gula kristal rafinasi dan memberi sanksi tegas kepada produsen gula rafinasi yang gulanya merembes ke pasar konsumen.

“Bila tuntutan kami para petani tebu tersebut tidak mendapat tanggapan, maka kami petani tebu yang tergabung dalam DPN APTRI akan bersama-sama unjuk rasa di Jakarta,” tambahnya.

Berkaitan dengan jatuhnya harga lelang gula petani akhir-akhir ini, maka DPN APTRI menyampaikan beberapa hal.

Di antaranya, saat ini musim giling tebu tahun 2016 pada posisi puncak dan sesuai dengan perkiraan Produksi Gula Kristal Putih (GKP) yang akan dihasilkan dalam musim giling tahun 2016 ini sebesar 2,4 juta s.d 2,5 juta ton.

Dengan demikian bilamana kebutuhan untuk konsumsi langsung diperkirakan 2,7 juta ton sampai 2,8 juta ton, maka diperlukan tambahan sekitar 350.000 ton (biasanya pemerintah memberikan ijzn impor raw sugar untuk idle capacity).

Untuk kebutuhan Gula Kristal Rafinasi berkisar antara 2,4 juta ton yang dipenuhi dengan 2,6 juta ton raw sugar yang diproses oleh Pabrik Gula Rafinasi.

Namun saat ini pemerintah memberikan kuota impor kepada industri gula rafinasi (11 Pabrik Gula Rafinasi) sebesar 3,2 juta ton, sehingga ada kelebihan sekitar 600.000 ton yang berpotensi merembes ke pasar konsumsi.

Bahwa berdasarkan informasi yang APTRI dapatkan pada tahun 2016 ini pemerintah telah mengeluarkan izin impor untuk pemenuhan konsumsi baik berupa white sugar maupun raw sugar.

Mereka adalah pemegang izin impor PPI (Izin Impor Pertama) 200.000 ton, PPI (Izin Impor Kedua) 100.000 ton, PT Adi Karya Gemilang 50.000 ton,  PT PG Gorontalo 25.000 ton.

Ada juga, BUMN (PTPN dan RNI) 381.000 ton, dan Perum Bulog (White Sugar) 100.000 ton.

Komisioning untuk PT KTM, PG di Dompu NTB, Industri Gula Glenmor (PTPN XII), PT GMM. Total jumlah 1.126.000 ton.

Apabila informasi tersebut benar, kata dia, maka akan ada gula impor yang masuk untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi + 1.126.000 ton.

Hal ini tentunya akan ada kelebihan pasokan untuk gula konsumsi sebesar + 775.000 ton karena jumlah kekurangan untuk gula konsumsi hanya sebesar + 350.000 ton.

Dan bilamana kelebihan gula rafinasi sekitar 600.000 ton yang berpotensi merembes dan akhirnya benar-benar masuk ke pasar konsumsi, maka akan terjadi banjir gula di pasar konsumsi dan ini akan menghancurkan harga lelang gula tani yang sekarang sudah merosot harganya.

Perlu diketahui bahwa pada awal giling sekitar bulan juni 2016, harga lelang rata-rata Rp. 14.000/kg lebih sedangkan saat ini harga lelang gula berkisar rata-rata Rp. 11.000/kg lebih, sehingga ada penurunan sekitar Rp. 3.000 / kg.

Saat ini rendemen tebu petani masih rendah hanya sekitar 6 – 6,7 %, jadi tidak sesuai janji Menteri BUMN yang akan menjamin rendemen 8,5 %, padahal izin Impor sudah diberikan.

“Kami menyadari bahwa dari kuota izin impor tersebut belum keseluruhan terealisasi namun dampaknya sudah sangat besar terhadap harga lelang gula petani saat ini, sehingga pada kesempatan ini kami memohon kepada Bapak Menteri Perdagangan RI untuk meninjau kembali izin impor baik raw sugar untuk gula rafinasi maupun raw sugar untuk gula konsumsi,” tambahnya.

Pengalaman kehancuran harga lelang gula petani pada tahun 2013 dan bahkan pada tahun 2014 harga lelang gula petani sempat jatuh dibawah HPP (HPP = Rp.8.500/kg harga lelang gula tani sempat jatuh sampai Rp. 7.400/kg), seolah akan berulang kembali.

Editor : Akrom Hazami

 

Ruangan komen telah ditutup.