Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sentra Industri Mebel Almari di Jepara Bisa Ditemui di Dukuh Grobogan Kecapi

624
Sejumlah produk almari hasil garapan warga dan pengrajin di dukuh Grobogan Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu KZ)
Sejumlah produk almari hasil garapan warga dan pengrajin di dukuh Grobogan Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara. (MuriaNewsCom/ Wahyu KZ)

 

MuriaNewsCom, Jepara – Sebagai Kota Ukir, Kabupaten Jepara identik dengan jenis mebel ukiran yang tersentralisasi dan tersebar di berbagai desa. Mulai dari  sentra relief di Senenan, Patung di Mulyoharjo dan lainnya.

Kini berkembang sentra baru, Sentra Industri Kecil Mebel Almari di Dukuh Grobogan, Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan, Jepara.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan (Disindag) Jepara,  Yoso Suwarno mengatakan, keberadaan produksi almari sebenarnya bukanlah satu-satunya. Mengingat sebelumnya telah juga telah ada di Desa Mulyoharjo dan Desa Bulungan.

Dia berharap keberadaan sentra-sentra bertambah dan berkembang. Karena dengan demikian akan semakin mempermudah pembeli mencari barang serta produksi makin efisien.

“Keberadaan  dan pengembangan sentra-sentra industri yang pada dasarnya merupakan aktualisasi dan optimalisasi bidang perindustrian di Jepara. Yaitu pengembangan sektor-sektor industri potensial,” ujar Yoso, Jumat (12/8/2016).

Tercatat sektor industri pengolahan memberi kontribusi ekonomi lokal sekitar 27,6 persen pada tahun 2014. Sedangkan pada tahun 2016 meningkat menjadi 32 persen lebih dari PDRB Tahun 2016. Industri ini tumbuh seiring dengan berkembangnya kebutuhan masyarakat yang juga terus meningkat.

“Diharapkan pengrajin tetap dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas. Jika harus bersaing maka bersaing dengan sehat. Karena bagaimanapun dalam pemasaran, barang yang baik dan berkualitas pasti akan disenangi dan terus dicari konsumen. Sebaliknya, barang jelek akan mengecewakan konsumen dan memutus keberlangsungan pemasaran,” jelasnya.

Peningkatan sektor ini, juga terjadi pada ekspor hasil olahan kayu furnitur, kerajinan kayu maupun suvenir. Terakhir hingga semester I, akhir juni 2016  mencapai 109,6 juta dolar. Sementara periode yang sama tahun lalu hanya 88,2 Juta dollar.

“Harapannya hingga akhir tahun akan terjadi peningkatan hingga dua kali lipat pada akhir tahun. Sehingga jika kurs dolar tetap Rp. 13 ribu, paling tidak ada sekitar 1,4 triliun uang dari hasil penjualan produk olahan kayu,” imbuhnya.

Editor : Akrom Hazami

 

Ruangan komen telah ditutup.