Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Benda Ini Bukti Ketertarikan RA Kartini dengan Alquran

Kasi Sejarah Museum dan Purbakala Dinbudparpora Rembang Siti Nuryati menunjukan Tafsir Alquran yang ditulis Kiai Soleh Darat yang dihadiahkan ke R.A. Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)
Kasi Sejarah Museum dan Purbakala Dinbudparpora Rembang Siti Nuryati menunjukan Tafsir Alquran yang ditulis Kiai Soleh Darat yang dihadiahkan ke R.A. Kartini. (MuriaNewsCom/Edy Sutriyono)

MuriaNewsCom, Rembang – Bisa jadi sebagian besar orang cukup sekadar tahu bahwa Kartini adalah seorang ibu keturunan ningrat Jawa yang memperjuangkan emansipasi. Tapi mungkin saja masih banyak yang belum tahu jika R.A Kartini memiliki ketertarikan yang besar terhadap Alquran.

Benda yang berada di Museum Kartini Rembang ini, menjadi salah satu bukti mengenai ketertarikan RA Kartini mengenai isi Alquran. Benda ini berupa kitab tafsir dan terjemahan Alquran yang bernama Kitab Faidhur-Rohman.

Kitab ini, disebut-sebut sebagai tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini hasil terjemahan yang ditulis oleh Kiai Sholeh Darat dari Semarang, dalam huruf  “arab gundul” (pegon). Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.

Kasi Sejarah Museum dan Kepurbakalaan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Rembang Siti Nuryati mengatakan, jika kitab tersebut hingga kini masih tersimpan secara baik di museum. Benda ini, juga bisa menjadi pengetahuan bagi pengunjung mengenai bagian dari kehidupan Kartini.

“Selain pengunjung bisa tahu bahwa Kartini merupakan tokoh emansipasi wanita, pengunjung juga bisa tahu Kartini dahulunya juga pintar mengaji. Selain bersekolah di umum, Kartini juga dahulunya suka mengaji,” ungkapnya.

Ia katakan, kitab tafsir dan terjemahan Alquran ini sebanyak 13 juz. Sebab, kitab tersebut belum sempat di selesaikan oleh Kiai Sholeh Darat, sebab, guru ngaji Kartini sudah meninggal terlebih dahulu, sebelum menyelesaikan terjemahan tersebut.

Lebih lanjut ia katakan, pemberian kitab tersebut bermula ketika pertemuan Kartini dengan Kiai Sholeh Darat dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga paman Kartini.

“Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Alquran diterjemahkan, karena menurut Kartini,  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan Alquran.  Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Alquran dengan ditulis dalam huruf “arab gundul” (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

 

Comments
Loading...