Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Siap-siap, Tradisi Bulusan Digelar Lebaran ke 8

kudus-bulusan (e)
Sungai tempat tradisi Bulusan akan digelar, tepatnya di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus, pada hari kedelapan Lebaran. MuriaNewsCom (Edy Sutriyono)

 

MuriaNewsCom, Kudus – Setiap daerah pastinya mempunyai tradisi unik yang digelar seusai Lebaran. Tentunya tradisi tersebut juga ada kaitannya dengan cikal bakal atau terbentuknya suatu wilayah.

Begitu halnya dengan Tradisi Bulusan. Bulus atau kura-kura menjadi salah satu penanda dari daerah yang namanya Bulusan. Tepatnya di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus.

Setiap habis Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran, tradisi ini digelar di desa tersebut. Termasuk juga tahun ini. Akan ada festival atau arak-arakan di tradisi yang terus digelar, di Lebaran ke 8 tersebut.

Salah seorang warga Hadipolo, Kiran menceritakan, pada zaman kasunanan ada seorang ulama dari Mataram bernama Kiai Dudo beserta dua muridnya,  datang ke Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, untuk menyebarkan agama Islam.

Kiai Dudo tersebut merupakan sebuah julukan. Sebab ulama itu menyiarkan agama tidak membawa pasangan atau istri. Akan tetapi dia membawa 2 orang murid. Sedangkan sebagian warga di zaman dahulu ada yang menyebutnya Joko Samudro atau juga Raden Sayid Ahmad Khasan.

”Setelah tiba di Hadipolo, Kiai Dudo memerintahkan kedua muridnya untuk menanam padi. Akan tetapi penanaman padi tersebut dilaksanakan setelah salat tarawih. Di saat yang sama, datanglah Sunan Muria berkunjung ke rumah Kiai Dudo,” jelasnya, Jumat (8/7/2016).

Mendengar bunyi seperti percikan air atau seperti ada seseorang yang tercebur di kolam, Sunan Muria berkata, ada orang bermain air di sawah tengah malam seperti bulus.

Setelah beberapa saat kemudian, Sunan Muria dan Kiai Dudo melihat serta menengok ke sawah tersebut. Lantas kedua murid yang menanam padi tersebut langsung berubah menjadi bulus (kura-kura, red).

Setelah itu, Kiai Dudo sontak heran. Sebab perkataan seoarang wali pasti akan manjur dan dikabulkan Tuhan. Untuk menenangkan perasaan Kiai Dudo, Sunan Muria berkata agar Kiai Dudo mendoakan muridnya tersebut.

”Kiai Dudo diperintahkan Sunan Muria untuk selalu menggelar acara doa bersama setiap 8 Syawal atau setelah Idul Fitri. Dan itulah tradisi yang terus berlangsung sampai saat ini,” imbuhnya.

Editor: Merie

Comments
Loading...