MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Harga Cabai Anjlok, Ganjar dan ASN Borong 10 Ton Cabai dari Petani

0 2.502

MuriaNewsCom, Semarang – Harga cabai di pasaran Jawa Tengah kini tengah anjlok. Bahkan di tangan petani, harga cabai terjun bebas sampai Rp 7 ribu/kilogram, dari harga semula seitar Rp 20 ribu per kilogram.

Kondisi ini membuat para petani cabai kelimpungan. Karena hasil panen tak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan untuk menanam dan merawat cabai.

Bahkan Jumat (11/1/2019) lalu, petani cabai di Desa Dempet, Kabupaten Demak, Jawa Tengah beramai-ramai membuang cabai merah yang baru dipanen ke jalan raya.

Aksi itu sebagi bentuk protes dan kekesalan mereka atas anjloknya harga cabai di tingkat petani. Mereka menuntut pemerintah segera menstabilkan harga jual cabai merah agar petani tidak merugi.

Kondisi ini langsung disikapi Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Senin (14/1/2019) ia mendatangkan 10 ton cabai dari petani untuk diborong bersama para aparatur sipil negara (ASN) di jajaran Pemprov Jateng.

Untuk membantu menyetabilkan harga cabai ini, Ganjar memang menginstruksikan seluruh ASN di Pemprov Jateng untuk membeli cabai-cabagi dari petani tersebut.

Sebanyak 10 ton cabai itu didatangkan dari Demak, Purbalingga dan Kabupaten Semarang, yang dikenal sebagai lumbungnya cabai di Jateng.

Ganjar Pranowo membeli cabai-cabai itu dengan harga Rp 18 ribu per kilogram. Jauh di atas harga pasaran di tingkat petani saat ini. Nilai transaksi cabai yang terjadi pada pagi itu mencapai Rp 200 juta lebih.

“Ini intervensi yang sifatnya darurat, tapi harus ada tindakan cepat,” kata Ganjar Pranowo.

Ia menyebut, kondisi seperti ini pernah ia terapkan saat harga bawang merah jatuh. Saat itu pula, ia memerintahkan para ASN untuk membeli bawang merah dari petani.

”Maka saat itu kita beli semuanya dan harganya terdongkrak. Hari ini kami lakukan lagi dengan memborong langsung cabai dari petani dengan harapan yang sama,” ujarnya.

Langkah memborong 10 ton cabai ini menurut Ganjar, hanya tindakan sementara. Gerakan itu dilakukan agar terjadi perubahan harga di pasaran.

“Memang ini sifatnya jangka pendek, karena petani butuh uang dan cabai juga usianya tidak lama, sebelum akhirnya membusuk. Untuk jangka panjang, sudah kami siapkan beberapa solusinya,” kata dia.

Menurut Ganjar, anjloknya harga cabai sebenarnya paling terasa di tingkat petani. Karena para tengkulak membeli dengan harga yang sangat murah. Sementara di pasaran, harga cabai hanya turun sedikit.

“Sebenarnya harganya tidak turun amat, tapi karena tengkulaknya kebanyakan, jadi harganya anjlok. Saya kemarin sudah cek di Ungaran, harga cabai keriting di pasaran Rp 20.000, pedagang membelinya Rp 15.000. Sementara harga jual dari petani hanya Rp 9.000 bahkan ada yang Rp 7.000. Ini kan yang tertawa para tengkulak itu, sementara petani terus merugi,” terangnya.

Ganjar menyampaikan, Kartu Tani adalah solusi paling tepat untuk mengendalikan kestabilan harga dan komoditi pertanian di pasaran. Kartu Tani sebenarnya tidak hanya bicara soal pupuk, namun juga merupakan data terkait semua aktivitas pertanian di Jateng.

“Saya ingin Kartu Tani dapat merekam kawan-kawan petani tanam apa, di mana, komoditasnya apa, kapan panennya. Jika data itu terekam, maka bisa dipantau dan dikontrol harganya,” pungkasnya. (lhr)

Editor : Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.