MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Pernah Jadi Rumah Petinggi VOC, Wisma Perdamaian Kini Gratis Dipinjam

0 219

MuriaNewsCom, Semarang – Wisma Perdamaian yang berada di dekat Tugu Muda, Kota Semarang, kini digratiskan untuk berbagai kegiatan masyarakat. Jika sebelumnya, kelompok masyarakat harus menyewa gedung lain untuk menggelar kegiatan, kini tinggal mengajukan izin saja ke Pemprov Jateng untuk menggunakan rumah peninggalan Belanda tersebut.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga memastikan jika penggunaan gedung tersebut digratiskan. Namun hanya untuk kegiatan masyarakat yang sifatnya positif. Seperti kesenian, seminar, dan lainnya.

Ia juga mengaku, memberikan kebijakan ini lantaran banyak dicurhati warga yang kesulitan mencari gedung untuk kegiatan, lantaran biaya sewa yang mahal.

“Saya sering dicurhati kok nyari tempat pentas susah, bayar gedung mahal, maka saya silakan pakai saja Wisma Perdamaian, gratis,” kata Ganjar di Semarang, Senin (14/1/2019).

Ia menyebut, saat ini gedung itu sudah mulai dimafaatkan banyak pihak. Beberapa kegiatan yang digelar di Wisma Perdamaian antara lain, pameran kartun, pentas peringatan hari anak, pentas kesenian musik, tari, dan teater hingga seminar, serta sarasehan kebangsaan.

Suasana upacara di depan Wisma Perdamaian di masa Belanda. (istimewa)

Gedung ini mempunyai sejarah yang panjang. Bangunan yang berdiri di Jalan Imam Bonjol Nomor 209 itu memiliki luas lahan sekitar 15.000 meter persegi, dengan total luas bangunan 6.500 meter persegi.

Wisma Perdamaian, dulu dikenal dengan nama De Vredestein, artinya “Istana Perdamaian”. Dinamakan begitu, karena Belanda merasa situasi kehidupan saat itu terasa begitu damai. Gedung yang dirancang oleh Nicholas Harting itu, kini telah mengalami beberapa perubahan.

Guru Besar Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Totok Roesmanto menjelaskan, Wisma Perdamaian dulunya digunakan sebagai rumah dinas petinggi VOC yang menjabat sebagai Gouverneur van Java’s Noord-Oostkust (Gubernur Jawa Utara Bagian Pesisir Timur).

Gedung ini kali pertama digunakan sebelum 1755, menjelang perjanjian Giyanti. Bangunan itu juga merupakan bagian dari rancangan pelebaran kota dari wilayah Kota Lama menuju ke arah Karang Asem (sekarang Randusari).

”De Vredestein memiliki kaitan erat dengan sejarah Perang Jawa. Bangunan ini sangat bersejarah mengingat di situlah tempat kedudukan gubernur VOC yang menguasai Pantai Utara Jawa,” tuturnya.

Secara arsitektur, bangunan Wisma Perdamaian juga telah mengalami banyak perubahan menyesuaikan fungsi bangunan itu sendiri. Karena pernah digunakan sebagai tempat pendidikan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) pada 1978.

Selain itu, juga pernah digunakan untuk Kantor Sosial pada 1980-an dan selanjutnya untuk Kantor Kanwil Pariwisata Jawa Tengah (Jateng) pada 1994.

Setelah direvitalisasi pada 1994, gedung itu sempat menjadi rumah dinas gubernur Jateng pada era Gubernur Suwardi. Ini berbarengan dengan penyematan “Wisma Perdamaian” sebagai nama gedung.

Namun, setelah era Gubernur Suwardi, para gubernur kembali menggunakan Puri Gedeh di Kecamatan Gajahmungkur menjadi rumah dinas.

Kini, Wisma Perdamaian lebih sering digunakan untuk kegiatan pemerintah provinsi ataupun dimanfaatkan untuk kegiatan budaya, seni, ataupun pendidikan.

Editor : Ali Muntoha

 

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.