MURIANEWS.com
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Bocah di Kudus Putus Sekolah, Ketua DPRD : Ini Ironi di Tengah Tunjangan Bagi Guru Swasta

0 2.033

MuriaNewsCom, Kudus – Slamet Daryanto (15) harus terpaksa berjualan kue gandos. Ia putus sekolah karena latar belakang ekonomi keluarga yang tidak mampu.

Menanggapi, hal itu Ketua DPRD Kabupaten Kudus Ahmad Yusuf Roni menilai permasalahan itu sangat ironi. Sebab, temuan anak putus sekolah di saat pemerintah Kabupaten Kudus tengah memberikan tunjangan kepada tenaga pendidik swasta.

“Sebenarnya ini menjadi ironi. Di saat pemerintah kabupaten memberikan tunjangan kepada tenaga pendidik, namun kenyataannya masih ada anak didik yang tidak mampu untuk melanjutkan masa pendidikannya,” ucapnya saat dihubungi, Selasa (8/1/2019).

Ia menilai adanya anak putus sekolah itu menjadi intropeksi bersama. Mulai intansi terkait hingga pemerintah daerah. Menurutnya penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Melainkan juga peran aktif keluarga, warga, pemerintah desa hingga pemerintah Kabupaten Kudus.

“Ketika memang ada ketidakmampuan dalam dalam pembiayaan pendidikan apakah orang tua tidak pernah mengajukan keringanan biaya? Ini harusnya juga menjadi perhatian bagi keluarga warga atau mungkin pemerintah desa,” lanjutnya.

Untuk itu, ia berharap kedepannya anak putus sekolah di Kudus tidak terjadi lagi. Apalagi, pendidikan SD hingga SMP gratis.

Sebelumnya diketahui, Slamet Daryanto tidak bisa mengenyam pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bocah 15 tahun itu hanya menamatkan pendidikan di tingkat sekolah dasar (SD). Kini ia harus membantu orang tuanya mencari nafkah dengan berjualan kue gandos.

Daryanto, begitu ia biasanya disapa adalah anak pertama pasangan Riyan dan Andri Dwi Astuti warga Desa Pasuruan Lor RT 1 RW 4 Kecamatan Jati. Semenjak ayahnya meninggal dunia 2016 lalu, Daryanto sekarang tinggal dengan Ibunya dan Neneknya yang berusia 70 tahun di sebuah kontrakan di Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati.

Lantaran permasalahan ekonomi membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah. Ia putus sekolah saat masih duduk di kelas VII SMP.

Meskipun tak sekolah, namun juga Daryanto tak mau pula di rumah saja. Ia lalu berinisiatif berjualan kue gandos. Ia mangkal di jalan Niti Simito No 645 Purwosari Kudus turut Desa Purwosari Kecamatan Jati. Dua bulan terakhir setiap hari ia mangkal di jalan tersebut. Ia berjualan kue gandos mulai dari pukul 16.00 WIB sampai selepas magrib.

Setiap hari, Daryanto mendapat penghasilan yang tak pasti. Penghasilan yang ia dapat antara Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu. Tergantung sepi atau ramainya pembeli. Uang hasil berjualannya itu digunakan ia untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ibunya yang hanya seorang buruh warung makan.

Editor : Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.