MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Putus Sekolah, Bocah 15 Tahun di Kudus Ini Jualan Kue Gandos

0 1.289

MuriaNewsCom, Kudus – Slamet Daryanto tidak bisa mengenyam pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Bocah 15 tahun itu hanya menamatkan pendidikan ditingkat sekolah dasar (SD). Kini ia harus membantu orang tuanya mencari nafkah dengan berjualan kue gandos.

Daryanto, begitu ia biasanya disapa adalah anak pertama pasangan Riyan dan Andri Dwi Astuti warga Desa Pasuruan Lor RT 1 RW 4 Kecamatan Jati. Semenjak ayahnya meninggal dunia 2016 lalu, Daryanto sekarang tinggal dengan Ibunya dan Neneknya yang berusia 70 tahun disebuah kontrakan di Desa Pasuruan Lor Kecamatan Jati.

Lantaran permasalahan ekonomi membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah. Ia putus sekolah saat masih duduk di kelas VII SMP.

“Keluar sekolah karena tidak ada biaya. Pengen usaha saja. Di rumah yang bekerja hanya ibu saja,” ungkap bocah itu.

Meskipun tak sekolah, namun juga Daryanto tak mau pula di rumah saja. Ia lalu berinisiatif berjualan kue gandos. Ia mangkal di jalan Niti Simito No 645 Purwosari Kudus turut Desa Purwosari Kecamatan Jati. Dua bulan terakhir setiap hari ia mengakal di jalan tersebut. Ia berjualan kue gandos mulai dari pukul 16.00 WIB sampai selepas magrib.

Setiap hari, Daryanto mendapat penghasilan yang tak pasti. Penghasilan yang ia dapat antara Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu. Tergantung sepi atau ramainya pembeli. Uang hasil berjualannya itu digunakan ia untuk memenuhi kebutuhan ekonomi ibunya yang hanya seorang buruh warung makan.

“Untuk bantu ibu dan biaya kebutuhan di rumah,” ujarnya.

Andri Dwiastuti ibu Daryanto mengatakan tidak mengetahui apabila anak semata wayangnya itu berjualan kue gandos. Ia mengetahui dari tetangga-tetangganya. Ia mengakui semenjak ditinggal meninggal dunia suaminya pada tahun 2016 lalu, perekonomian keluarga menurun dratis. Karena tidak ada pemasukan penghasilan.

“Putus sekolah karena biaya. Anak saya kalau telat bayar SPP kan isin (malu), karena sering telat belum bayar SPP,” katanya.

Ia mengatakan selama tidak sekolah anaknya menghabiskan waktu berdiam diri di rumah. Untuk menghindari pergaulan tidak benar. Menurutnya, anaknya dibiarkan untuk berjualan kue gandos.

“Dari pada ndak sekolah. Biar kerjo saja. Pengen saya ya sekolah. Tapi ekonomi keluarga seperti,” jelasnya.

Melihat kondisi keluarga yang jauh dari kata kesejahteraan membuat tetanggat ataupun warga sekitar yang simpatik. Rasa kepedulian warga disalurkan melalui membeli kue gandos dagangan Daryanto.

“Sengaja beli jajan kue gandos. Ya, itung-itung melariskan dagangan. Biar cepet habis. Semoga dagangannya laris. Biar bisa bantu perekonomian keluarga,” ucap Laila Agusriah (21) warga Kelurahan Desa Purwosari.

Editor : Supriyadi

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.