MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

3.998 Desa di Jateng Diintai Banjir dan Longsor

0 405

MuriaNewsCom, Semarang – Hasil pemetaan yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng menunjukkan ada ribuan desa di provinsi ini rawan terjadi bencana alam banjir maupun longsor.

Catatan BPBD menunjukkan ada 3.998 desa yang berpotensi terjadi bencana banjir maupun longsor selama musim hujan kali ini.

Rinciannya, 1.864 desa di Jateng rawan terkena banjir. Ribuan desa ini berada di 336 kecamatan.

”Sementara yang berpotensi terjadi lonsor di 2.134 desa dari 344 kecamatan,” kata Kepala BPBD Provinsi Jateng, Sarwa Pramana dilasnir Antara.

Puncak musim hujan diprediksi akan terjadi pada Januari hingga Februari 2019 dengan curah hujan diperkirakan mancapak 300-400 mm.

Sementara daerah yang berpotensi terjadi banjir akibat tingginya curah hujan tersebut antara lain, Kabupaten Cilacap, Kebumen, dan Purworejo.

“Banjir juga berpotensi terjadi di wilayah pantai utara dari Kabupaten Brebes hingga Rembang, kemudian wilayah pantai selatan,” ujarnya.

Daerah yang berpotensi terjadi bencana alam tanah longsor, kata dia, berada di wilayah pegunungan, dan paling besar berpotensi di wilayah Kabupaten Banjarnegara, dan Banyumas.

Sarwa menjelaskan, pihaknya telah memasang puluhan alat peringatan dini (early warning system) untuk mengurangi risiko bencana dan jumlah korban.

“Kita sudah pasang 60 alat early warning system (EWS), untuk antisipasi tanah bergerak atau longsor,” katanya.

Selain bencana banjir dan tanah longsor, Provinsi Jateng juga memiliki ancaman bencana tsunami yakni di pesisir selatan yaitu Kabupaten Cilacap, Purworejo, Kebumen, dan Wonogiri.

“Sudah kita pastikan EWS dalam kondisi baik, kita punya sembilan `digital video broadcast`, tiga `warning receiver system, dua sirine tsunami, enam pendeteksi gempa, dan tujuh sensor akselerograf,” ujarnya.

Sementara itu, terkait dengan jumlah bencana alam di Jateng mengalami penurunan, dengan rincian pada 2017, terdapat 2.463 bencana, kemudian di 2018 menurun menjadi 1.734 bencana.

“2017 jumlah kerugian akibat bencana mencapai Rp87 miliar, sedangkan 2018 turun menjadi Rp47 miliar. Ini karena masyarakat makin paham mitigasi bencana,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.