MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

4 Alat Deteksi Tsunami Terpasang di Pesisir Selatan Jateng, Tapi Ada yang Rusak

0 317

MuriaNewsCom, Semarang – Wilayah Jawa Tengah tak lepas dari ancaman bencana tsunami. Wilayah yang punya kerawanan terhadap tsunami paling tinggi yakni di wilayah pesisir Jateng bagian selatan.

Pasalnya kawasan ini, dekat dengan dekat dengan pusat sesar aktif yang berkaitan dengan gempa. Sehingga berpotensi memicu tsunami dari laut selatan.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwa Pramana menyatakan, sejumlah alat peringatan dini atau early warnig system (EWS) sudah terpasang di beberapa titik pesisir selatan Jateng.

Pemasangan ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya bencana gempa dan tsunami yang berpotensi menerjang kawasan laut selatan Jateng. Empat daerah di Jateng tersebut yang dipasangi EWS yakni Cilacap, Kebumen, Wonogiri, dan Purworejo.

“Di Cilacap sudah dipasang early warning system oleh BMKG. Memang sudah ada EWS yang rusak akibat korosi air laut,” katanya.

Padahal menurut dia, Kabupaten Cilacap paling banyak membutuhkan EWS. Karena di daerah itu ada dua kecamatan yang berada di bibir pantai.

“Berbagai potensi bencana itu harus diantisipasi, karena saat ada peringatan gempa 6,7 SR, apakah akan terjadi tsunami atau tidak, semua harus tetap waspada,” katanya.

Selain mewaspadai gempa dan tsunami, masyarakat di kawasan pegunungan juga harus meningkatkan kewaspadaan. Terutama warga yang bermukim di sekitar Gunung Merapi, yakni Boyolali, Klaten, dan Sleman DIY. Terlebih saat ini kondisi gunung tersebut berstatus waspada tingkat dua.

“Status ini akan berlangsung kurang lebih sampai enam bulan. Bahkan dua pekan terakhir terjadi erupsi kecil, sehingga warga harus menjauh radius 3 kilometer dari puncak Merapi,” ujarnya.

Pada Kamis (27/12/2018), Gunung Merapi mengalami dua kali guguran yang terjadi sekitar pukul 02.50 dan 08.45 WIB. Jarak luncur guguran terpantau sejauh 300 meter ke arah hulu Kali Gendol dan barat laut di dalam area kawah.

“Masyarakat di sekitar Merapi sudah sering mendapat sosialisasi. Bahkan kita selalu turun dengan komunitas-komunitas sehingga saat Merapi bereaksi masyarakat di kawasan gunng lebih tenang atau tidak panik,” terangnya.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.