MuriaNewsCom
Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

4 Tahun Terakhir, 2.222 Perempuan di Jateng Jadi Korban Kekerasan Seksual

0 216

MuriaNewsCom, Semarang – Angka kekerasan terhadap perempuan di Jawa Tengah masih sangat tinggi. Bahkan catatan LRC-KJHAM, dalam empat tahun terakhir (2013-2017) jumlah perempuan di Jateng yang menjadi korban kekerasan mencapai 4.116 orang.

Dari jumlah itu, lebih dari 50 persen di antaranya atau sebanyak 2.222 perempuan menjadi korban kekerasan seksual. Kondisi ini cukup memprihatinkan, di tengah upaya dari berbagai pihak untuk mengampanyekan penghentian kekerasan.

Kepala Operasional LRC-KJHAM Nur Laila Hafidhoh mengatakan, pada tahun 2018 ini saja, pihaknya mencatat sudah ada 311 perempuan di Provinsi ini yang menjadi korban kekerasan.

”Dan 246 di antaranya merupakan korban kekerasan seksual. Jumlahnya mencapai 76 persen dari total kasus kekerasan perempuan di tahun 2018,” katanya dalam dialog di salah satu TV lokal Semarang, Kamis (6/12/2018) malam.

Kondisi ini menurut dia, menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang ada saat ini belum cukup melindungi perempuan korban kekerasan seksual.

Oleh karenanya, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mendesak dibahas kembali dan segera disahkan. Sebab situasi saat ini menurutnya sudah darurat dan tidak bisa ditunda-tunda lagi, supaya tidak memakin banyak memakan korban.

“RUU ini mendesak dibahas dan disahkan dengan substansi yang benar benar melindungi korban, jangan disahkan tetapi tidak melindungi korban. Pemerintah dan semua pihak harus bersama sama mendesak DPR RI, karena saya maupun warga lainnya bisa menjadi korban,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin menyebutkan, tingginya angka kekerasan perempuan di provinsi ini tak lepas dari wilayah Jateng yang relatif luas serta jumlah penduduk yang cukup besar.

Meski demikian menurut dia, Pemprov Jateng terus berupaya melakukan pencegahan dan penanggulangan. Salah satunya dengan penerbitan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga.

“Dalam perda itu, ada beberapa fungsi. Yaitu fungi agama, sosial, ekonomi dan lainnya. Fungsi-fungsi ini kita kuatkan guna melindungi keluarga di Jateng dari berbagai isu kekerasan,” terangnya.

Dalam perda tersebut, perlindungan kekerasan seksual tidak hanya fokus pada perempuan dan anak, tapi juga perlindungan pada kaum laki-laki. Sebab beberapa tahun terakhir, kekerasan seksual dengan korban laki-laki juga marak terjadi.

“Dahulu kaum perempuan termasuk anak perempuan kerap menjadi korban, sekarang kaum laki-laki juga rentan menjadi korban kekerasan seksual,” ucapnya.

Selain itu menurut dia, ada hal-hal lain yang tidak kalah penting untuk mencegah tindak kekerasan seksual. Yakni adanya perhatian, cinta kasih keluarga. Perhatian itu dapat dilakukan dengan cara memberikan pendidikan, pendampingan dan pengawasan kepada anak-anak saat menonton berbagai tayangan di televisi maupun gadget.

Terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, Gus Yasin juga mengajak masyarakat untuk terus mendorong agar segera disahkan.

“Ayo bareng-bareng mendorong DPR RI agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dapat segera disahkan,” pungkasnya.

Editor : Ali Muntoha

United Futsal Pc

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.